Voice of Baceprot: Meretas Batas lewat Musik Keras

Visual: Otong

Tiga perempuan meneriakkan kesetaraan lewat musik yang mereka sebut hip metal funky.

Bagi sebagian orang, trio asal Garut, Jawa Barat ini hanya sekadar gimmick. Mereka beranggapan kalau Voice of Baceprot (VoB) sengaja memainkan identitas antara perempuan, hijab, dan musik metal. Namun, seiring waktu berjalan, ketiganya semakin mantap menunjukkan tajinya.

Terbentuk tahun 2014 saat masih duduk di bangku kelas 2 SMP, mulanya VoB akronim dari Voice of Baquitoz beranggotakan tiga belas orang. Namun, sepuluh di antaranya terkendala restu orang tua. Menyisakan tiga orang yang kemudian berganti nama menjadi Voice of Baceprot. 

Tiga orang ini adalah Firdda Kurnia sebagai vokalis sekaligus gitar, Euis Siti Aisyah pada drum, dan Widi Rahmawati di bass. Restu dari orang tua mereka dapatkan, ketika nama VoB mulai dikenal khalayak. "Baceprot" sendiri merupakan Bahasa Sunda untuk menyebut "berisik" atau "bawel". 

Julukan tersebut terasa pas ketika mendengar penjelasan Erza Satia atau akrab disapa Abah selaku manajer tiga mojang penuh talenta ini. Dalam sebuah video di kanal Youtube VoB, Abah menggelar ingatannya ketika bertemu ketiganya sekira enam tahun lalu. Mereka bertemu di Madrasah Tsanawiyah Al-Baqiyatussholihat, di mana Abah menjadi guru honorer bagian konseling dan ketiganya sebagai murid.

Di sekolah, trio ini dianggap “bermasalah” karena rajin mengkritisi kebijakan sekolahnya melalui majalah dinding. Sehingga, intensitas pertemuan antara murid ngeyel dengan guru konseling itu justru memunculkan kemungkinan baru. Kehadiran Abah sebagai fasilitator, memiliki peran penting dalam perkembangan karir, musikalitas, maupun dalam rangka membantu merawat nalar ketiganya.

Perempuan, Jilbab, dan Musik Keras

Genre metal kerap dilabeli sebagai musik yang maskulin, penuh kekerasan, hingga satanis. Di Indonesia sendiri, persentase perempuan sebagai pegiat di skena metal terbilang masih sedikit. Para pegiat perempuan seperti Fransisca Ayu “LeftyFish” atau Asri Yuniar “GUGAT”--yang juga berhijab--di tahun 90-an hingga 2000-an terkenal cadas, kini panggungnya meredup karena kesibukan lainnya. 

Daripadanya, kehadiran VoB dapat diamini sebagai angin segar. Sebab mereka perempuan dan berhijab bukanlah faktor satu-satunya, tetapi juga kemampuan bermusik yang menjanjikan di usia remaja.

Menariknya, VoB bukanlah selembar kertas kosong yang sekonyong-konyong memainkan musik keras. Lebih dari itu, mereka menggunakan musik metal untuk mengkonfrontasi norma-norma konservatif. Firdda melalui SBS menyampaikan, “Kami memilih metal karena itu adalah musik pemberontakan dan mampu merepresentasikan dengan baik kegelisahan kami.”

Usia remaja tidak membatasi mereka memafhumi identitas mereka sendiri: perempuan beragama Islam, hidup di budaya patriarki, dan kacau-balaunya sistem pendidikan. Narasi inilah yang selalu disampaikan VoB setiap diwawancarai media lokal maupun global. Firdda menambahkan dalam South China Morning Post, “Menggunakan hijab seharusnya tidak membatasi mimpi kami menjadi bintang heavy metal. Aku pikir, kesetaraan gender harus didukung. Karena aku merasa masih mengeksplor kreativitasku, di saat bersamaan tidak mengabaikan kewajibanku sebagai seorang muslimah.”

Mendedah Musik VoB melalui Data

Lebih dari sekadar perempuan berjilbab memainkan metal, VoB punya kemampuan musikal cukup membuat takzim. Mereka mengklaim berada di aliran Hip Metal Funk yang memadukan musik metal, funky, dan hip-hop. 

Lebih lanjut, kami mencoba menelusuri seberapa jauh eksplorasi VoB lewat tiga nomor yang telah dirilis melalui Spotify API. Terdapat tujuh indikator yakni: energy yang merujuk intensitas aktivitas perseptual, speechiness merujuk banyaknya kata-kata, accousticness merujuk seberapa jauh pemakaian efek pada setiap alat musik, instrumentalness merujuk ragam instrumen yang dipakai dalam satu lagu, liveness merujuk kedekatan antara hasil mixing dengan lagu yang dibawa saat live concert, valence merujuk emosi yang dimunculkan trek, dan danceability merujuk seberapa cocok lagu untuk menari.

Lewat indikator di atas, kita bisa membedah track characteristic masing-masing lagu. 

School Revolution

Nomor School Revolution yang didengarkan 38,274 kali sejak dirilis 2018 lalu, merupakan trek paling banyak didengar. Secara umum, corak khas VoB ada di bagian energy yang angkanya nyaris mentok poin tertinggi. 

Misalnya di School Revolution, lagu ini jelas bukan akustik, sebab gebukan drum Siti diiringi permainan bass Widi dan gitar penuh distorsi menghasilkan tempo rapat mengantarkan mereka pada angka 0,962 di indikator energy.

Lirik yang dilantunkan Firdda terdengar begitu bervariasi. Dengan tempo cepat kemudian melambat saat reff, tampaknya ingin mengesankan amarah dan berakhir keputusasaan. Emosi tersebut berhasil dihantarkan dengan baik, terlihat dari angka danceability 0,337. 

Lagu cadas ini cukup mampu memanaskan mosh pit dan membuat penonton headbang. Angka liveness yang cukup tinggi mencapai 0,361 menandakan bahwa hasil mixing rekaman tidak neko-neko dan amat mirip paduan instrumen musik metal untuk live concert. 

Perempuan Merdeka Seutuhnya

Kejengahan VoB atas perempuan yang melulu dibelenggu budaya patriarki coba dirangkum lewat nomor Perempuan Merdeka Seutuhnya (PMS). Sama seperti School Revolution, lagu Perempuan Merdeka Seutuhnya (PMS) ini juga terdengar begitu berenergi dengan jumlah energy mencapai 0,94. 

Perasaan tersebut disampaikan VoB dengan komposisi instrumen lebih banyak daripada vokal. Tampaknya, VoB banyak menggunakan ragam efek (atau bahkan instrumen) saat merekam lagu ini, mengingat aspek instrumentallnes berada di angka 0.351, tertinggi di antara lagu lainnya. 

Chart Kentut RUUP (Merdeka itu Kentut)

Dibandingkan dua lagu di atas, Kentut RUUP terdengar lebih datar. Entah karena mixing atau faktor lainnya, indikator liveness hanya sampai di angka 0,107. Energy nomor ini berada di angka 0,879 yang membuat hasrat headbang atau danceability tidak terlalu tinggi yaitu 0,221.

Namun, yang berbeda adalah angka valence yang lebih tinggi dibanding lagu lainnya yakni mencapai yaitu 0.389. Perpindahan ritme dan tempo di lagu kali ini terhitung stabil, tidak naik turun seperti dua lagu lainnya. 

Writer: Mega Nur

Editor: Ardhana Pragota