Terhanyut dalam TikTok

Visual: Otong

Bagaimana TikTok mengubah citra dari aplikasi tak berfaedah menjadi pesaing ketat platform media sosial mapan lainnya.

Tahun 2018, naiknya popularitas bocah bernama panggung Bowo Alpenliebe disambut nyinyiran generasi tua. Banyaknya penonton jogedan sambil memasang tampang imut remaja 13 tahun di TikTok dianggap simbol dari generasi yang hanya hobi bersenang-senang, otaknya dangkal, dan tidak berfaedah.

TikTok sebagai pemangku juga kena batunya, yang ramai disebut ‘aplikasi goblok’ dalam pencarian Google Play Store. Kementerian Komunikasi dan Informatika bahkan sempat memblokirnya di pertengahan 2018, karena dianggap mewadahi konten pornografi dan pelecehan agama.

Dua tahun berselang, ketika Bowo sudah tak lagi aktif di TikTok, platform besutan Bytedance ini tak surut. Jumlah pengguna naik drastis, malah menjangkiti lebih banyak orang generasi tua yang ikut dalam laku remaja-remaja yang dulunya dituding tak berfaedah. Bowo tak lagi dihujat, malah menjadi junjungan usai banyak pesohor mengikuti tingkahnya.

Peningkatan Jumlah Pengguna TikTok

Sumber: Sensor Tower Store Intelligence

Kisah manis Tiktok bermula saat induk perusahaannya yang berasal dari China, Bytedance, membeli platform media sosial video penguasa pasar Amerika Serikat, Musical.ly, dengan platform sejenis asal China, Douyin. Saat itu November 2017, dan Bytedance dengan bendera TikTok memulai langkah dengan baik bermodalkan popularitas Musical.ly dengan konten lipsync dan jogedan.

Dari lipsync dan jogedan, TikTok mengembangkan berbagai fitur untuk memudahkan user membuat konten yang lebih kreatif. Ada ratusan template efek dan lagu yang bisa dipergunakan dalam pelbagai skenario video pendek lucu-lucuan.

Pengguna Tik Tok versus Platform Lainnya

Sumber: Hootsuite/We Are Social

Cara ini sukses. Format video pendek editan berdurasi 15 detik milik TikTok ternyata menyenangkan banyak pengguna. TikTok mengalami kenaikan pengguna dalam dua tahun terakhir. Hingga Mei 2020, aplikasi TikTok telah didownload sampai 2 miliar, dengan jumlah pengguna aktif harian sampai 800 juta di seluruh dunia. Menurut Apptrace, TikTok telah digunakan di 155 negara.

Berbeda dengan pendahulunya seperti Facebook dan Twitter, user bakal mendapat banyak tools untuk membumbui video. Katakanlah Twitter dengan fitur cuitan dengan interaksi sebatas retweet dan like. Facebook yang terpaku pada fitur mengunggah foto, teks, dan video. Begitu juga Instagram yang terlanjur populer dengan foto dan video pendek.

Umur Pengguna TikTok

Sumber: Globalwebindex (2019)

Format konten video ini awalnya memang hanya digandrungi remaja generasi Z. Bradian Muliadi dari Forbes mengatakan jika obsesi Gen-Z terhadap hal-hal yang otentik memicu kegemaran generasi remaja ini pada TikTok. Seperti gayung bersambut, fitur-fitur yang ada dalam TikTok

Pengguna TikTok Dewasa di AS

Sumber: Marketingcharts (2019)

Namun TikTok melampaui apa yang mereka impikan untuk menjadi platform lucu-lucuan remaja. Jumlah pengguna dewasa mendadak ikut naik drastis. Citra TikTok sebagai aplikasi tak berfaedah juga luntur. Pengguna kini tak lagi peduli dengan atribut ‘aplikasi goblok’ menyusul keragaman konten yang ditelurkan pengguna TikTok.

Pada tahun 2018, konten TikTok unggahan host superstar Jimy Fallon memulai arus masuk kelompok umur dewasa. Batas umur dan mutu yang kerap membelah TikTok tak lagi penting. Media bonafide seperti The Washington Post dan New York Times menggunakan Tik Tok sebagai salah satu kanal distribusi konten beritanya.

Di Indonesia, ada peningkatan drastis konten edukasi yang bersanding dengan video lucu-lucuan. "Mengutip salah satu riset, pengguna kami naik 20%, kurang lebih (di Indonesia) seperti itu. Uniknya, jenis konten yang mengalami kenaikan selama pandemi itu adalah konten edukasi," ujar Head of Content and User Operations TikTok Indonesia Angga Anugrah Putra dalam konferensi pers virtual, Senin (18/5) lalu.

Time Spend TikTok (dalam hitungan menit)

Sumber: Business of Apps (2019)

Tahun 2018, 1 juta menit video TikTok dikonsumsi setiap harinya. Data TikTok pada tahun 2019 menyebutkan jika 90 persen users secara aktif menggunakan platformnya. Globalwebindex menyebutkan jika 55 persen users adalah pengguna aktif yang berpartisipasi dengan terus-menerus membuat konten, alih-alih pemantau pasif.