Taylor Swift Kembali Memijak Bumi

Visual: Otong

Taylor Swift terdengar begitu indie dalam album terbaru berjudul 'Folklore'.

Tahun 2020 telah lewat setengahnya dan berjalan tak sesuai rencana Taylor Swift. Pandemi membuatnya harus menyendiri, karena konser dan tur terpaksa menepi dari keramaian yang jadi tirakat haram untuk masa sekarang. Dalam keheningan, kepalanya disesaki banyak pikiran. “Sebagian besar rencana musim panas tak berlanjut. Malah, apa yang tidak saya rencanakan malah terwujud,” kata Taylor dilansir The Guardian.

Seperti blessing in disguise, kesendirian malah membuat Taylor Swift kian produktif. Kekalutan yang mengendap di kepala penyanyi kelahiran Pennsylvania ini mengkristal jadi lagu baru yang terbungkus dalam album kedelapan berjudul “Folklore”. Album berisi 16 track ini diproduksi secara remote karena mustahilnya pertemuan fisik.

Dalam album kali ini, Taylor berkolaborasi dengan Aaron Dessner, gitaris grup indie rock The National, serta bekas personil .fun, Jack Antonoff. Nama lain yang terlibat adalah Justin Vernon dari Bon Iver sebagai tandem Taylor dalam dua lagu berbeda.

Album ini panen puja dan puji dari para kritikus. Sebelumnya, Taylor merevolusi musik pop dengan dengan ritme riang dan chorus meriah, meski liriknya tak lepas dari sumpah serapah terhadap kisah cinta.

Untuk membuktikannya, kami kemudian mengambil data track characteristic dari Spotify API guna mengecek detail komposisi. Spotfiy API menggunakan variabel Echo Nest untuk mendedah karakter lagu.

Dimulai dari intensitas dan aktivitas lagu diukur melalui energy, semakin kencang dan keras musiknya maka semakin energik. Banyaknya kata dan kerapatannya ditaksir melalui speechiness. Suara akustik atau yang tidak mengalami intervensi efek ditakar lewat acousticness

Kemudian porsi suara yang dimunculkan oleh sedikit-banyaknya instrumen diukur instrumentalness. Bagaimana sebuah lagu diandaikan digelar secara langsung dapat dilihat di liveness. Perkara rasa, hal ini diukur melalui valance, di mana semakin tinggi nilainya berarti semakin positif. Sedangkan kemampuan lagu mengajak menari diukur lewat danceability.

Kami membandingkan dengan dua album lain yakni 1989 dan ‘Lover’. ‘1989’ yang rilis tahun 2014 mengandung berbagai single yang membawa Taylor menjadi diva pop dunia. Kemudian ‘Lover’ yang juga menuai rekor penjualan di seluruh dunia, sekaligus album yang disukai oleh Taylor sendiri.

‘Folklore’ memang tidak menjanjikan chorus meluap-luap seperti album pendahulunya. ‘Lover’ pada angka 0.545222. Album ‘1989’ dengan angka 0,6987 membuatnya terasa energik. Lagu-lagu di album '1989' seperti 'Shake It Off' dan 'Bad Blood' langsung menghentak sejak bait pertama. 'Shake It Off' mengawalinya dengan hentakan drum diikuti nada tinggi Taylor. Semenye-menyenya 'Blank Space', lagu ini masih menyajikan intensitas tinggi. 

Album ini jauh lebih tenang dari segala keriuhan hidup yang menghinggapi Taylor. Sikapnya kerap mengusik pakem mulai dari mengkritik Spotify dan label lawasnya, ribut dengan Kanye West, hingga kekhawatirannya soal COVID-19, sama sekali tak muncul. 'Folklore' cuma punya daya energi mencapai 0,425.

Begitu juga danceability yang membuat ‘Folklore’ menjadi yang terbontot dibanding dua album lainnya. Coba saja dengarkan lagu “cardigan”. Ia benar-benar tenang, tanpa letupan kemarahan. Sama seperti ke-16 lain yang sarat lantunan piano yang lembut, petikan gitar yang minim, meski ada sentuhan instrumen elektronika tipis-tipis. Sehingga, lagu-lagu ‘Folklore’ terdengar sendu dan pilu dibandingkan kedua album lainnya. Angka valence hanya mencapai 0,381, terpaut cukup jauh dari '1989' (0,46198) dan ‘Lover’ (0,481444).

Jika mencari apa yang spesial dari ‘Folklore’, maka kita perlu memuji keberanian Taylor mengandalkan musik akustik. Angka accousticness ‘Folklore’ begitu tinggi, mencapai 0,79281, jauh meninggalkan ‘1989’ (0,113175) dan ‘Lover’ (0,333743). Artinya, Taylor banyak melibatkan distorsi dan efek dalam merekam lagu sebelumnya.

Angka accousticness ini begitu kental di lagu-lagu dalam ‘Folklore’. Misalnya saja di lagu ‘Invisible String’ dan ‘Betty’ yang begitu kaya petikan gitar akustik bersanding dengan harmonika. Meski tak sepenuhnya mengembalikan jati diri sebagai musisi country, string section dari lagu-lagu yang ada membuat banyak orang percaya jika Taylor berhasil menjadi indie.