Setengah Tahun Ini oleh Hindia: Amarah Baskara untuk Tahun 2020 yang Durjana

Visual: Otong

Untuk kalian yang merasa tahun 2020 penuh kisah pilu ya, lagu ini untuk kalian.

Apa kabar kalian di tahun 2020 ini? Baik? 

Mari kita mulai saat pergantian tahun menyapa. Virus tak dikenal menjangkiti warga Provinsi Hubei, China. Banyak yang mengira virus itu akan menetap di sana. Tapi kenyataannya, virus yang kemudian diberi nama Sars-COV 2 segera menyebar ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. 

Sejak awal April, kebebasan terenggut, mengurung kita di rumah dalam kekhawatiran karena korban yang terus bertambah. Memasuki bulan kelima, pandemi tak kunjung mereda di Indonesia. 

Kurungan itu kian menyedihkan dengan kisah-kisah haru yang datang menyusul. Glenn Fredly meninggal pada 8 April 2020. Lalu Didi Kempot serangan jantung pada 5 Mei. Sisa alasan untuk bahagia di masa sulit terenggut. 

Belum lagi masalah personal yang tak kalah sedikit. Pandemi memicu masalah ekonomi. Pemecatan di mana-mana. Usaha tak laku. Bahkan ada yang tak ragu berujar, bagaimana kalau tahun 2020 dihapus saja dari catatan sejarah kita semua?

Dok: Hindia

Tahun 2020 juga terasa absurd bagi musisi Baskara Putra dan kawan-kawan Hindia. Sebagai musisi jelas terasa hambar ketika ingar bingar konser yang biasa menghidupi lenyap seketika. Nestapa ini kemudian melahirkan inspirasi karya berjudul lagu “Setengah Tahun Ini”. 

“Dalam menulis ‘Setengah Tahun Ini’, walau menggunakan contoh kejadian sosial maupun pribadi yang spesifik, saya ingin menggunakan lagu ini sebagai sebuah refleksi pribadi atas apa saja yang terjadi selama setengah tahun 2020 dan menggunakannya untuk menjadi pembelajaran di setengah tahun mendatang,” tandas Baskara lewat keterangan persnya, Kamis (16/7). 

Penuturan kisah “Setengah Tahun Ini” menjadi sebuah cerminan perubahan diri untuk menghadapi periode selanjutnya. Secara bersamaan, lagu ini mengisyaratkan pula satu perubahan yang jelas sudah dalam genggaman; kita akan segera memasuki fase bermusik selanjutnya dari Hindia.

Lalu, seperti apa lagunya?

Baskara secara sadar menyampul cerita-cerita tersebut dengan sikap penerimaan diri yang ia pernah curahkan di Menari Dengan Bayangan. Ia mengutip kembali potongan lirik dari lagu Hindia sebelumnya seperti “Ku ingin melihatmu esok hari” (“Evaluasi”), “Aku hanya ingin ketenangan” (“Evakuasi”), “Semua yang sirna kan’ nanti terganti” (“Secukupnya”/”Belum Tidur”), hingga “Menarilah dengan bayangan sendiri” (“Mata Air”). 

Kami mencoba membandingkan lagu-lagu Hindia terbaru dengan dua hits lainnya di Spotify yakni “Secukupnya” dan "Rumah ke Rumah" . Lewat Spotify API, track character atau karakteristik musik hasil gubahan dapur rekaman dibedah lewat enam variabel yakni danceability, liveness, instrumentalness, accousticness, speechiness, dan energy

Hasil penghitungan kami menunjukkan bahwa “Setengah Tahun Ini” memang benar-benar lagu depresi. Meski anxiety semacam jadi DNA dalam lirik karya Hindia, lagu baru ini depresi sejak dari tempo dan gubahan musik. 

Misalnya lagu “Secukupnya” yang mengajak semua pendengar untuk ambil sedikit tisu dan bersedih secukupnya, angka valence atau mood yang dihasilkan dari lagu tetap tinggi. Angka valence tinggi menandakan ritme yang muncul memicu suasana positif. Angka valence lagu “Setengah Tahun Ini”, terpaut jauh dengan hanya mencapai 0,463, dibanding “Secukupnya” yang sampai 0,933.

Baskara sendiri mengakui ada perubahan musik. “Pada format awal, ‘Setengah Tahun Ini’ lebih mirip disandingkan dengan berbagai lagu-lagu folk/akustik milik Iwan Fals atau ‘Membasuh’ jika disandingkan dengan katalog milik Hindia sendiri,” kata Baskara menggambarkan.

Karakter yang selama ini jadi pegangan musikalitas Hindia adalah angka danceability dan energy yang seragam. Baik lagu “Secukupnya” dan “Dari Rumah ke Rumah” memiliki rerata danceability 0,7 dan energy hampir mencapai 0,8. Artinya, tempo dan pergeseran nada cukup rapat, sehingga semiris apapun liriknya cukup mampu menghentak suasana. 

Dalam muatan aransemen atau musik, “Setengah Tahun Ini”, terdapat lapisan paduan suara yang menemani lajunya lagu ini bertujuan untuk membangun suasana. Hindia mengklaim penggunaan paduan suara sebagai “limpah ruah rasa mawas diri”. 

Pembeda lain di lagu ini adalah kosakata vokal yang lebih ramai dari lagu-lagu sebelumnya. Angka speechiness atau kerapatan vokal “Setengah Tahun Ini” lebih tinggi dari lainnya, meskipun hanya terpaut tipis. Baskara kali ini menggunakan sisipan vokal serupa gaya rap selayaknya upaya penegasan cerita yang praktis. 

Elemen ini ditulis, direkam, dan dinyanyikan sendiri oleh Baskara dengan kembali membaurkan polesan sejawat musiknya yaitu Rayhan Noor, Wisnu Ikhsantama Wicaksana, dan Kunto Aji. “Namun dirombak ulang saat akhirnya tercetus ide untuk menciptakan sebuah aransemen track yang menggunakan progresi chord dan elemen yang belum pernah digunakan oleh Hindia sebelumnya di Menari Dengan Bayangan” tandasnya. 

Apapun musiknya, kita semua layak sepakat jika separuh dari 2020 benar-benar absurd.