Sepak Terjang Viu Menaiki Gelombang Popularitas Drama Korea

Visual: Otong

Bermodalkan hak lisensi 90 persen karya drakor, Viu mampu menyaingi Netflix dan YouTube.

Drama Korea selalu menjadi teman menarik, pun bagi sebagian orang harus disimpan rapat-rapat sebagai guilty pleasure. Kesenangan melihat relung kehidupan dalam kacamata Korea Selatan; mulai dari romansa dalam kelompok pertemanan, pertarungan bisnis, ketegangan politik dengan negara tetangga, hingga tanda-tanda mempertanyakan ulang keinginan untuk menikah, dirayakan bersama oleh sekumpulan orang yang jumlahnya tak sedikit.

Kelompok berjumlah besar akan menjadi sebuah pasar bagi mereka yang punya kejelian. Untuk itu, Viu lahir di Hong Kong pada 2015 sebagai platform streaming drama Asia. Setahun kemudian, Viu mampu ekspansi ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Upaya memanfaatkan reputasi drama Asia terbukti sukses menjadi cuan.

Pada Q1 tahun 2017, Viu berhasil mengantongi 6 juta pengguna aktif bulanan. Di pengujung tahun, angka ini melonjak hampir tiga kali lipat menjadi 16,3 juta. Jumlah penggunanya terus bertambah secara signifikan hingga puncaknya di tahun 2019, dengan tren kenaikan 35% dari tahun sebelumnya.

Data Perkembangan Pengguna Viu

(Sumber: PCCW Annual Report 2017, 2018, & 2019)

Fokus adalah kunci sukses, dan Viu telah membuktikannya. Mereka tak main-main dalam mewujudkan layanan streaming drakor lewat jalinan kerja sama dengan 5 production house, yang membuatnya berhasil memegang lisensi 90 persen konten hiburan Korsel. "Kami menyajikan konten Korea paling segar kepada pengguna dalam hitungan jam setelah rilis, lengkap dengan terjemahan bahasa lokal," ungkap Direktur Konten Viu, Virginia Lim. 

Munculnya peminat drakor ‘angkatan pandemi’ di awal tahun 2020 menyeret Viu ke papan atas platform streaming selain YouTube dengan pengguna aktif bulanan terbanyak se-Asia Tenggara, menggeser Line TV dan Netflix. Viu harus berterima kasih kepada drama yang dimainkan Sun Woo, Tae Oh, dan Da Kyung dalam The World of The Married (2020) yang berhasil berkontribusi 55% dari total streaming platform tersebut.

Data Pengguna Platform Streaming di Asia Tenggara (Jan-Mar 2020)

*Tidak termasuk YouTube. 

(Sumber: APMD Research 2020)

Meskipun dengan pengguna aktif bulanan terbanyak, kekalahan secara kuantitas jumlah film/serial di Viu masih menempatkan Netflix sebagai platform di luar YouTube dengan waktu streaming terbanyak di Asia Tenggara. Selisih antara keduanya cukup jauh, 12 miliar streaming minutes.

Streaming Minute di Asia Tenggara Berdasarkan Platform (Jan-Mar 2020)*

*Tidak termasuk YouTube

(Sumber: APMD Research 2020)

Namun rupanya Indonesia menunjukkan data lain. Viu menjadi platform dengan penggunaan waktu streaming terbanyak setelah YouTube dengan rata-rata 237 menit per minggu setiap pengguna. Angka ini mengalahkan platform-platform lain seperti FirstMediaX dan Netflix.

Penggunaan Platform Streaming di Indonesia (Jan-Mar 2020)

(Sumber: APMD Research 2020)

Data-data di atas menunjukkan adanya persaingan yang menarik antara Viu dan Netflix dalam mencuri perhatian Asia. Viu yang memiliki basis di Asia tentu ingin mempertahankan teritorinya dari ekspansi besar-besaran Netflix. Pasalnya, Netflix berangsur-angsur menginjakkan kaki di hampir 190 negara di dunia, termasuk Asia, sejak tahun 2016. Tidak hanya soal rebutan negara, kedua platform ini juga ikut rebutan konten-konten yang dihadirkan, termasuk drakor. Tak ingin kalah dari Viu sebagai distributor konten drakor yang masih on-going, Netflix juga akhirnya melepas motto binge-watching miliknya dan menayangkan drakor melalui episode mingguan mengikuti jadwal di Korea Selatan.

Jika Viu meraih keuntungan akibat kesuksesan The World of the Married (2020), Dr. Romantic (2016-2020), Goblin (2016), dan Descendants of the Sun (2016), Netflix juga hadir dengan menggandeng drama yang tak kalah populer seperti Itaewon Class (2020), Hospital Playlist (2020), Crash Landing on You (2019), dan Vagabond (2019). Ditambah lagi, pada awal tahun ini, Netflix resmi bekerja sama dengan rumah produksi Studio Dragon yang berada di bawah perusahaan industri hiburan terbesar di Korea Selatan, CJ ENM Group, perihal distribusi internasional. Viu memang mencuri start sejak 2016 dengan menggaet drakor-drakor populer. Tapi Viu harus hati-hati karena Netflix perlahan mengejar.

Di Korea Selatan sendiri, setiap drakor memiliki rating-nya masing-masing. Menurut Nielsen Korea, The World of the Married menjadi drama dengan rating tertinggi sepanjang sejarah televisi di Korea Selatan. Urutan ini diikuti oleh Mr Sunshine (2018) dan Goblin di urutan kedua dan ketiga. Lalu kalau melihat seberapa populer drakor yang ada di Korea Selatan, kira-kira Viu dan Netflix telah berhasil menggaet yang mana saja ya?

Viu dan Netflix: Rebutan Drakor Populer

(Sumber: Nielsen Korea 2020)

Tentu Viu harus berhati-hati dalam mempertahankan posisinya di mata Asia dari raksasa seperti Netflix. Tapi rupanya Viu menghindari persaingan langsung dengan Netflix agar tidak berakhir seperti Hooq dan Iflix. Netflix memiliki banyak keunggulan karena pengguna dapat mengakses konten-konten dari berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, Viu tetap ingin konsisten untuk fokus ke Asia. Bagi Viu, drakor hanya pintu masuk bagi pengguna untuk mengakses lebih banyak lagi konten-konten Asia seperti drama Jepang, Cina, dan Thailand atau film-film Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia.

Melihat kesempatan yang ada, Viu aktif memproduksi konten-konten original, baik drama dengan bahasa lokal seperti My Bubble Tea (Thailand), maupun adaptasi Asia dari serial Barat seperti Pretty Little Liars (Indonesia) dan The Bridge (Malaysia). Viu sendiri cukup pede bahwa penonton Asia tidak hanya tertarik nonton drakor, tapi juga konten-konten lokalnya masing-masing.