Saat yang Lain Buntung, Miliarder Teknologi Malah Tambah Tajir Selama Pandemi

Visual: Galih Kartika

Amazon, Microsoft, dan Tesla seperti sudah mempersiapkan produknya untuk mengatasi situasi sulit macam pandemi kali ini.

Entah tirakat atau laku prihatin apa yang dijalani seorang Jeff Bezos. Baru Oktober 2019 ia merengkuh status sebagai orang terkaya di dunia. Belum sampai setahun, tepatnya pekan keempat Juli 2020, pendiri e-commerce Amazon kembali ketiban rezeki fantastis. Selasa (21/7), Bezos mencetak rekor menjadi makhluk bumi dengan penambahan kekayaan terbesar dalam semalam, mencapai 13 miliar dolar Amerika Serikat. 

Pangkalnya adalah rilis riset analis pasar Goldman Sachs menyebut Amazon bakal meraup untung besar dalam 12 bulan ke depan. Pemain saham di Amerika Serikat sontak kegirangan mendapat kabar ini, dan berebut saham Amazon. Harga saham Amazon langsung naik 8 persen dalam sehari, yang otomatis ikut menambah besaran kekayaan Bezos. 

Data yang dihimpun oleh Bloomberg per 25 Juli 2020, Jeff Bezos memiliki nilai kekayaan sebesar 179 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp. 2.613.892.250.000.000. Kekayaan pribadi Bezos bisa dibilang hampir menandingi PDB Yunani yang saat ini ada di angka 206,9 miliar dolar AS.

Di tengah ketidakpastian pandemi, Bezos dan Amazon malah tidak kehilangan rezeki seperti yang lain. Keuntungan Amazon pada quarter pertama 2020 meningkat hampir 25 miliar dolar AS. Menurut Comscore, lalu lintas pengguna ke laman Amazon meningkat sampai 65 persen dibanding tahun sebelumnya. 

Jeff Bezos dalam peresmian Amazon Sphere. Dok: Wikimedia Commons

Tidak hanya Bezos. Konglomerat seperti Bill Gates (Microsoft) dan Mark Zuckerberg (Facebook), pandemi COVID-19 juga tidak berpengaruh pada akumulasi kekayaan mereka. Dalam artikel The Rich Are Getting Richer During Pandemic, Zuckerberg tercatat mengalami peningkatan kekayaan 15 miliar dolar AS di tahun 2020. Selain itu, miliarder Elon Musk juga dicatat menambah kekayaannya tiga kali lipat ke angka 75 miliar dolar AS selama 7 bulan terakhir.

Apa yang dialami Bezos dan Amazon adalah ironi dalam situasi pandemi COVID-19 yang membuat kebanyakan bisnis harus merumahkan diri atau memutar otak mencari cara agar tetap bertahan di tengah skema physical distancing. 

Bisnis besar juga banyak yang tak selamat. Menurut data Hurun Research, sebagian besar dari 100 miliarder global nyungsep, dengan akumulasi kerugian sampai 400 miliar dolar AS, atau keuntungan dalam 2,5 tahun terakhir. Belum lagi pelaku industri menengah dan mikro yang sudah pasti kalang kabut. 

Tentu kita akan bertanya-tanya mengapa di saat sebagian besar warga dunia kesulitan mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan sekaligus berhadapan dengan virus, miliarder justru amat jauh dari kata sulit finansial. Kondisi ini kemudian membuka tabir kapitalisme yang selama ini menjadi mimpi buruk masyarakat kelas menengah hingga kelas bawah. Perbedaannya, mimpi buruk ini ternyata begitu nyata di depan mata.

Sistem dan struktur ekonomi, juga hubungan antara perusahaan raksasa dan negara, memainkan peran dalam merenggangnya jarak antara si miskin dan si kaya. Kebijakan pajak menjadi salah satunya. Di Amerika Serikat, misalnya, sejak tahun 1980 sampai dengan 2018, total pembayaran pajak sekumpulan orang kaya turun secara signifikan hingga 79 persen.

Kecenderungan pemerintah memberikan sedikit pajak bagi perusahaan besar untuk meningkatkan PDB negara ternyata tidak menguntungkan bagi sebagian besar masyarakat, terutama mereka yang mengisi bagian bawah piramida ekonomi. 

Bagi sebagian besar masyarakat, pajak menjadi salah satu jalan mengakses ketersediaan pelayanan dasar seperti sekolah dan kesehatan. Maka tak heran pula, di tengah meningkatnya kekayaan segelintir orang, barisan medis masih kesulitan mendapatkan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai dari negara.

Protes lockdown di Kanada. Dok: Flickr

Pun demikian, pajak bukan menjadi satu-satunya alasan kesenjangan ekonomi terjadi pada saat pandemi. Tutupnya bisnis lokal dan bisnis kecil juga mempermudah persaingan ekonomi bagi perusahaan raksasa, terutama mereka yang bergerak secara digital dengan penetrasi teknologi tinggi. 

Dalam kasus Amazon, misalnya, pandemi membuat masyarakat cenderung belanja online ketimbang datang dan belanja ke pebisnis kecil. Seperti halnya di Indonesia, pun dengan hadirnya ojek daring, kecenderungan belanja daring di platform-platform seperti Tokopedia dan Shopee akan lebih tinggi ketimbang toko-toko yang ada di sekitar kita.

Isu lain yang juga tak kalah mengerikan adalah maraknya pekerja lepas dan pekerja murah saat pandemi. Di saat PHK masif terjadi, lapangan kerja menjadi sebuah urgensi. Maka banyak masyarakat yang beralih mencari alternatif kerja seperti pekerja lepas. Menurut CNBC (06/07/2020), pasar tenaga kerja lepas global meningkat 25% sejak April hingga Juni.

Di Indonesia sendiri, pekerja lepas memiliki privilese yang jauh lebih sedikit ketimbang pekerja tetap. Hal ini termasuk jaminan sosial dan tunjangan ekonomi. Pada titik ini, perusahaan besar cenderung diuntungkan dengan menurunnya kewajiban menyediakan jaminan dan tunjangan.

Tentu hanya menengok kekayaan perusahaan besar belum tentu produktif. Negara dan rangkaian kebijakannya juga berkontribusi terhadap besarnya kesenjangan yang terjadi saat pandemi. Namun, alih-alih fokus mengalokasikan anggaran untuk lapangan pekerjaan yang sehat dan meninjau ulang kebijakan pajaknya, pemerintah di Indonesia justru masih berencana memaksakan pengesahan RUU Cipta Kerja yang semakin membuat pekerja mengernyitkan dahi.