Runtuhnya Kejayaan Industri Fashion Mewah oleh Pandemi Virus Corona

Visual: Otong

Ternyata, hidup manusia tidak terlalu membutuhkan pakaian dan aksesoris dengan harga tak terlampau tinggi dibanding kualitasnya.

Pandemi telah menyudutkan semua orang pada situasi yang tidak menentu. Semua kalangan dipaksa mengevaluasi ulang kebiasaan berbelanja dan mengubahnya jika tidak ingin tergilas. Perilaku konsumen pun mengalami kalibrasi ulang dan kembali pada hierarki kebutuhan yang dicetuskan Maslow. Tiga aspek kebutuhan dasar manusia; kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, hingga kebutuhan afeksi, menjadi prioritas utama sehingga keinginan membeli barang-barang mewah pun tersingkirkan.

Dampak pandemi pada industri barang mewah tak main-main, Global Data memprediksi penjualan barang mewah di Asia Pasifik akan mencatat pertumbuhan negatif sebesar 3,4% mencapai $60,3 miliar selama tahun 2020.

Philippe Blondiaux, Direktur Keuangan Chanel, juga menyampaikan pada Reuters bahwa mereka sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi dampak buruk pandemi terhadap penjualan selama 18-24 bulan ke depan. Sumber data lain, Bain & Company bahkan memperkirakan bahwa penjualan barang-barang mewah seperti tas, pakaian, hingga jam tangan akan menurun hingga 30-35% dibanding 2019.

Chanel terpaksa menutup banyak tokonya di Asia Pasifik, sementara itu pagelaran-pagelaran ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Strategi marketing yang fokus pada interaksi langsung antara karyawan dan pelanggan tak lagi bisa dilakukan.

Berbagai jenama mewah ini pun tidak serta merta mampu beradaptasi dengan berpindahnya lapak jualan menjadi daring (e-commerce). Pembelian daring dianggap tidak bisa mensubstitusikan prestise dan pengalaman berbelanja barang mewah di tokonya langsung. Alhasil, mereka semakin limbung di tengah virus corona yang melemahkan sistem ekonomi.

Kembalinya fokus masyarakat pada tiga kebutuhan dasar manusia semasa lockdown menunjukkan bahwa manusia akan selalu baik-baik saja tanpa memiliki barang-barang bermerek. Belum lagi kepastian finansial yang masih di awang-awang melihat banyaknya karyawan yang dirumahkan serta ketidakstabilan ekonomi semasa pandemi. Tiap-tiap dari kita dituntut untuk menjadi lebih bijak dalam menentukan skala prioritas.

Lebih daripada itu, ilusi yang membuat kita seolah membutuhkan barang-barang mewah agar bisa bertahan di lingkungan sosial pun dibubarkan oleh virus ini. Pertemuan-pertemuan yang dibatasi membuat kita tidak bisa tampil dengan mengikuti tren “berapa harga outfit lo?”.

Tak peduli seberapa prestisius dan mewah para jenama ini mencitrakan produknya saat dipakai, tidak akan ada yang bisa ditunjukkan selama acara kongkow-kongkow dilarang. Fabrikasi dalam branding yang diberikan oleh tim pemasaran tak lagi relevan.

Pada gilirannya, perubahan yang dilakukan dalam perilaku mengonsumsi akan lebih fokus pada kebutuhan dasar serta keperluan untuk menjaga kesehatan fisik dan psikis. Meski barang-barang bermerek dapat digolongkan sebagai kebutuhan untuk aktualisasi diri, namun kondisi ekonomi yang tak menentu membuatnya lebih sulit untuk diwujudkan. Kita kemudian dihadapkan pada perubahan mindset dalam membelanjakan uang.

“Pola konsumsi masih didorong oleh motivasi yang kuat seperti emosi, identitas dan hubungan sosial. Namun, nilai, kebiasaan, dan norma yang membentuk apa yang ingin kita konsumsi dan bagaimana kita mengonsumsinya akan sangat berubah semasa dan setelah pandemi,” ungkap Erica Carranza, peneliti psikologi konsumen dari pusat studi Chadwick Martin Bailey, seperti yang dilansir melalui Forbes.

Anjuran menjaga jarak dan melemahnya perekonomian semasa pandemi membawa kesadaran baru untuk tiap-tiap dari kita. Adalah hidup yang akan terus berjalan bahkan tanpa adanya barang-barang mewah yang melekat dan kita akan tetap baik-baik saja.