Petani Pelosok Kolombia Melawan Tengkulak Lewat YouTube

Visual: Otong

Nubia dan kedua putranya aktif di YouTube usai hasil panennya selalu rugi.

Sepanjang 38 tahun usianya, Nubia Gaona Cardenas tak memiliki kehidupan lain di samping bercocok tanam di rumahnya yang masuk wilayah Munisipalitas Chapaque, daerah pedesaan Kolombia. Ia bersama dua anak laki-lakinya menyepi ke sepetak lahan sewaan, bertemankan tumbuhan pangan serta hewan ternak seperti babi dan ayam yang menjadi penyangga hidup keluarganya. 

Namun kini, nama Nubia begitu sohor. Kisah keluarganya pergi jauh melintasi pegunungan subur Kolombia, menembus kota-kota besar di seluruh penjuru bumi lewat akun YouTubenya bernama 'Nubia e Hijos'. Tak kurang dari 586 ribu subscriber dengan 1 juta pengguna YouTube telah memutar videonya. Menurut Social Blade, Nubia kini punya potensi pemasukan sampai USD 6.500 atau hampir Rp 95 juta per bulan. "Yang paling menyenangkan adalah orang jadi tahu bagaimana kehidupan di desa, itu yang membuat para penonton menyukai kami," kata Nubia dilansir VOA

Tidak ada skenario dan peralatan canggih yang serba disiapkan dalam video Nubia. Alih-alih, Nubia secara jujur menampakkan kisah hidup di desa, baik dari segi cerita maupun teknik.
Video pertama yang rilis pada 29 April 2020, dengan latar ayam berkotek, sorotan kamera yang tak stabil, tapi tetap mampu menangkap lembah subur nan indah di Chipaque. Seketika kamera buram, lalu menampilkan Nubia Gaona, dan kedua anaknya Arley David dan Jeime Alejandro, lalu ketiganya melambaikan tangan seraya berseru ramah, “hola!!”

Tak diduga, video berdurasi 2 menit 26 menit yang diedit secara sederhana, dengan kualitas yang juga sederhana, menjadi viral. Video itu hingga kini sudah ditonton lebih dari 1 juta orang, dengan jumlah subscriber di channel 'Nubia e Hijos' telah mencapai 586 ribu. 

Motivasi Nubia dalam merambah YouTube amat sederhana. Sejak kematian suaminya dua tahun lalu, Nubia kian sulit mengoptimalkan lahan garapannya yang terus-menerus tak menghasilkan. Padahal, lahan itu dipinjamkan oleh tetangganya, Sigifredo Moreno, dengan kontrak bagi hasil setiap kali panen. 

Selain itu, rantai pasokan di Kolombia juga tak ramah pada petani kecil macam Nubia. Hasil panen yang tak selalu bagus tidak dipedulikan oleh para tengkulak yang sekonyong-konyong memberi harga begitu rendah. Dari investasi USD 7000 untuk mengelola lahan, Nubia dan keluargannya hanya berhasil mengumpulkan USD 1500 dari penjualan hasil panen mereka. Moreno kehilangan modal dan Nubia dan keluarganya kehilangan jerih payah mereka selama satu tahun.

Ketika pandemi menyerang, masalah yang mereka hadapi menjadi semakin bertambah. Harga bahan pendukung pertanian seperti pupuk dan obat hama menjadi semakin tinggi, sedangkan harga hasil panen terus menurun akibat melemahnya perekonomian.

Di tengah tekanan yang semakin berat ini, putra sulungnya memberikan sebuah ide untuk membuat video YouTube tentang kehidupan mereka sebagai petani sekaligus menjual paket menanam yang berisi benih dan tanah. Awalnya mereka semua tertawa, Nubia Gaona yang tinggal sebagai petani seumur hidupnya tak pernah mengerti tentang Facebook, Instagram, apalagi membuat video YouTube.

Nubia dan keluarganya. Dok: YouTube

Tapi, Nubia dan keluarga menyambut ide pembuatan YouTube dengan antusias. Nubia dan keluarganya tidak bekerja sendirian karena dibantu Moreno dan istrinya, Juliana Zapata, turut membantu. Juliana yang mengambil dan mengunggah videonya, Moreno yang akan mengantarkan pesanan ke Bogota.

Dalam menyiapkan konten, Nubia hanya memotret apa yang telah ia lakukan sehari-hari. Kontennya seperti sebuah tutorial menanam pada umumnya, dengan jenis tanaman sayuran yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Dari kemasan cerita itu, Nubia hanya berharap memiliki penonton dari kota, sehingga bisa membeli langsung produknya tanpa melalui perantara yang memotongan rezekinya.

Nubia sendiri tidak menyangka videonya bisa viral. Dalam wawancaranya dengan Bogota Post, Nubia mengungkapkan bahwa ketika membuat video itu dia hanya membayangkan dia akan mendapatkan 50 pesanan dalam seminggu. Tapi sekarang dia bahkan tidak bisa menghitung berapa jumlah pesanan yang masuk. Ketika satu pesanan berhasil dibuat, ada banyak pesanan baru yang datang.

Mereka mengira hanya akan ada 50 hingga 100 pesanan, tapi ternyata semuanya berjalan diluar dugaan. Moreno mengungkapkan bahwa mereka membalas 5,634 chat di WhatsApp. Mereka juga mendapatkan pesan dari Israel, China, Rusia, dan Oman. “Ini berada di luar perkiraan, benar-benanr diluar perkiraan. Tapi ini adalah masalah yang indah dan harus selesaikan,” kata Moreno.

Dari hasil penjualan paket menanam itu, keluarga Nubia mendapatkan 80% dari keuntungan, sedangkan 20% sisanya masuk ke sebuah organisasi nirlaba Huertos de la Sabana, yang dikelola oleh Moreno dan Istrinya. 

Dalam setiap videonya, Keluarga Nubia tidak hanya berjualan paket benih. Mereka juga bercerita tentang kehidupan mereka sebagai petani. Nubia menjelaskan beberapa kesulitan menjadi petani di Kolombia dan bagaimana harga yang mereka dapatkan untuk sayuran hasil panen, tidak bisa mencukupi kehidupan mereka. 

“Ketika aku hendak menjual hasil panen, yaitu kentang, mereka membayarku 150 pesos per pound. Tetapi ketika aku pergi ke kota untuk membeli kentang, harganya mencapai 2000 pesos per pound, ada 2000% perbedaan yang ditambahkan oleh tengkulak,” Moreno mengungkapkan.

Ilustrasi petani Kolombia. Dok: Grain Foundation

Di Kolombia, para petani kecil yang tinggal di pedesaan seperti Nubia dan keluarganya menghadapi masalah kemiskinan dan kesenjangan yang besar. Berdasarkan data dari Bank Dunia pada tahun 2018, kemiskinan di pedesaan dua kali lebih tinggi daripada daerah perkotaan. 

Sekitar sepertiga dari populasi pedesaan ataau sekitar 36% hidup dalam kemiskinan, sedangkan 15% hidup dalam kondisi yang disebut sebagai extreme poverty. Belum lagi masalah pengasingan, tingkat kematian, dan kelaparan juga masalah utama yang dihadapi masyarakat pedesaan, terutama perempuan dan masyarakat adat.

Huertos de la Sabana, Organisasi yang membantu Nubia sebenarnya adalah organisasi yang bertujuan untuk menghubungkan petani dan penjual agar petani dapat mendapatkan harga yang adil. Namun, jaringan besar industri pertanian menyulitkan hal tersebut. 

Oleh karenanya lewat lewat video itu, mereka berusaha mengedukasi publik tentang keadaan buruk yang menimpa para petani dan pentingnya menjadi konsumen yang bertanggung jawab secara sosial dan berkelanjutan. Untuk saat ini, yang terpenting bagi Moreno adalah membuat orang banyak tetap menonton dan mendengar cerita Nubia Cardena dan para keluarga petani.

Bagi Nubia dan keluarganya, mereka hanya merasa bersyukur karena begitu banyak orang yang terus memberi dukungan. YouTube mengganjar channel Nubia dengan 'Plakat Silver' karena berhasil melewati 100 ribu subscriber. Capaian langka para YouTuber ini tak disambut dengan foya-foya. Dalam sebuah video, mereka masih tak bisa lepas dari keluguan. "Ini cuma perak tiruan," ujar kedua putra Nubia terkekeh mengegam plakat. 

Nubia bersama dua orang anak laki-laki, Arley David dan Jeimer Alejandro, serta satu ekor anjing betina yang mereka beri nama Luna, masih terus menggarap lahan. Mereka tak hanya menyemai benih pangan, tapi juga kejujuran, yang kini telah dituai dalam bentuk dukungan luas.