Perias Jenazah, Pemberi Ketenangan pada Mereka yang Ditinggalkan

Visual: Otong

Kebutuhan untuk membuat jenazah tampak cantik selama pemakaman melahirkan profesi perias khusus saat pemakaman.

Dalam setiap penutup hidup seseorang, keluarga yang ditinggalkan akan berusaha melakukan yang terbaik saat menggelar proses pemakaman. Sembahyang khusyuk yang mendaraskan doa yang luhur, perenungan akan kenangan indah semasa mendiang hidup, hingga ornamen istimewa sepanjang acara pemusaraan, dilakukan atas nama penghormatan dan kasih sayang. 

Namun, bagi sebagian kelompok masyarakat tertentu, ornamen acara pemakaman tak hanya soal peti jenazah atau bunga yang menghiasi rumah duka. Untuk kepercayaan yang tak menggunakan tirakat pemocongan, jenazah harus terlihat cantik. Jas dan gaun bakal tersemat di tubuh yang terbujur kaku. Tak lupa, wajah yang tak lagi berekspresi harus dirias. Di tengah-tengah pilu yang dirasakan itu profesi perias jenazah hadir untuk membantu memberikan penghormatan terakhir pada tubuh yang telah terbujur kaku. 

Ini jelas bukan jenis pekerjaan yang lazim bagi orang banyak. Tak hanya keharusan untuk berhadapan dengan mayat, yang tentu membutuhkan kesiapan mental luar biasa, tapi juga pentingnya memiliki kemampuan khusus mendandani orang yang sudah meninggal agar terlihat seperti sedang terlelap. “Ini riasan untuk menghadap Tuhan. Jadi, riasan yang terbaik ya seperti riasan yang sedang tidur saja,” ungkap Gloria Elsa saat diwawancara oleh Dimas Nur Apriyanto untuk Jawa Pos.

Hal serupa juga diakui oleh Jamie Reed, yang mendapat julukan “Embalming Queen”. Dilansir melalui The Cut, wanita tersebut menuturkan kesulitan yang paling sering ditemui adalah tekstur kulit yang cenderung sudah mengeras dan trik menciptakan bayangan alami pada wajah.

Tidak jarang perempuan tersebut mengambil referensi riasan melalui foto mendiang atau bahkan meminta didampingi keluarga saat mendandani. Ini bisa menolong perias jenazah menghadirkan sosok yang bersemayam di peti mati terlihat serupa dengan saat ia hidup. Akan tetapi, permintaan nyeleneh juga dapat terlontar dari kerabat seperti yang dialami oleh Gloria Elsa.

Perempuan berusia 36 tahun itu rupanya sempat diminta untuk menyasak tinggi rambut salah satu mayat yang didandaninya. Request itu sontak ditolaknya dengan halus diikuti penjelasan tentang prinsipnya sebagai seorang perias jenazah. Baginya, rambut yang disasak sah-sah saja selama tidak berlebihan.

Riasan pada jenazah memang memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah persemayaman terakhir. Prosesi ini akan membawa para keluarga dan orang-orang terdekat pada momen terakhir sebelum peti mati ditutup.

Karena itu para perias jenazah umumnya memiliki empati yang tinggi pada siapa saja yang membutuhkan jasanya. Tercermin dari cerita Ciuny Susiliawati Mustalim, atau yang kerap disapa Bu Yuni, seorang perias jenazah yang bekerja di Rumah Duka Filemon, Bogor.

“Rasanya tidak baik meminta bayaran dari orang yang tengah berduka. Bapak (Filemon, pemilik Rumah Duka Filemon) sendiri juga tidak memaksakan harga. Bahkan terkadang, semua jasa kami gratis,” ujarnya kala dimintai keterangan oleh reporter Kumparan.

Perasaan yang senada disampaikan oleh Jamie. Ia berharap keluarga dan kerabat yang mengambil waktu melihat peti mati bisa berujar, “Itu memang suamiku, dia terlihat sangat damai. Ia terlihat seperti dirinya sendiri yang sedang tertidur.”

Merias mayat, bagi para pegiatnya, bukan hanya perihal menghilangkan tanda-tanda kematian seperti kulit yang telah membiru atau bercak-bercak. Lebih dari itu, menyiapkan raut agar terlihat tidak jauh berbeda dari semasa hidup menjadi tantangan sendiri. Jika pada orang hidup berdandan berarti menutupi kantung mata dan kerutan, maka pada jenazah hal-hal seperti itu seharusnya ada untuk membuat mereka terlihat lebih ‘bernyawa’.

Pada individu yang meninggal dengan bekas luka dan trauma di kulit akan jauh lebih sulit lagi. Perias jenazah harus menunggu proses menutup luka baru kemudian bisa mendandani sekaligus menyamarkan goresan-goresan yang tersisa demi mengurangi derita batin yang harus dilewati mereka yang ditinggalkan.

Mereka yang bergelut di rumah duka sebagai juru dandan jenazah tidak cuma berbekalskill mumpuni, namun kehangatan dalam diri masing-masing pekerja lah yang mampu menghadirkan kehidupan yang damai pada sosok tak bernyawa di dalam peti mati.