Perdebatan Tak Berujung Menyoal Tanaman Rekayasa Genetika

Visual: Otong

GMO digadang jadi solusi mengatasi kelaparan di muka bumi. Tapi didebat karena praktik bisnisnya serta kandungan yang bisa merusak tanah.

Pada tahun periode 1990-an, industri pepaya di kepulauan Hawai terancam bangkrut. Penyebabnya adalah sebuah virus yang menyerang buah pepaya. Virus yang dikenal dengan nama virus bercak cincin (ringspot virus) ini menyebabkan pohon pepaya gagal tumbuh dan mati. Mengancam industri buah terpenting kedua di Hawaii dengan nilai mencapai USD 17 juta. Virus ini menyerang hampir seluruh tanaman pepaya di seluruh wilayah kepulauan Hawai dan menyebabkan penurunan produksi hingga 50% pada tahun 1993.

Penurunan drastis ini membuat Departemen Pertanian Hawai dan industri pepaya bekerjasama untuk membiayai penelitian untuk merekayasa secara genetik pepaya agar tahan terhadap virus bercak cincin.

Percobaan pepaya hasil rekayasa genetik ini dimulai pada tahun 1992 dan menunjukkan hasil yang memuaskan. Pepaya hasil rekayasa genetik terbukti tahan virus dan menghasilkan hasil 25 kali lebih baik dari pepaya konvensional. Baru pada tahun 1995, pepaya hasil rekayasa genetika ini mendapat persetujuan dari pemerintah Amerika untuk ditanam dan dipasarkan secara komersil. Sepuluh tahun kemudian sekitar 90% produksi pepaya disumbang oleh pepaya yang dikenal dengan nama rainbow papaya.

Namun, pada tahun 2013 parlemen di negara bagian Hawaii memutuskan untuk melarang segala bentuk tanaman hasil rekayasa genetik termasuk rainbow papaya. Kebijakan ini diambil setelah munculnya berbagai protes dari masyarakat Hawaii yang khawatir tanah mereka akan diambil alih oleh perusahaan agrikultur, yang mana pertimbangan keuntungan lebih didahulukan daripada keberlanjutan dan kesehatan publik.

Beberapa berita mengenai tanaman hasil rekayasa genetik atau GMO (genetically modified organism) dapat menyebabkan tumor, atau hilangnya spesies kupu-kupu setelah adanya tanaman GMO menjadi rumor yang semakin menguatkan protes masyarakat.

Beberapa kalangan seperti pegiat lingkungan dan masyarakat lokal menyambut baik keputusan ini. Namun kelompok industri pepaya, petani pepaya, dan juga perusahaan besar penghasil benih GMO seperti Monsanto tetap menolak dan terus menekan pemerintah untuk mencabut larangan ini, bahkan hingga kini.

Perdebatan terkait GMO tidak hanya terjadi di Hawaii tetapi juga di seluruh dunia. Pertanyaan-pertanyaan seputar dampak kesehatan akibat tanaman GMO menjadi hal yang selalu dibicarakan. Jadi apakah tanaman GMO aman?

Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh PEW Survey terkait persepsi masyarakat Amerika tentang produk GMO menunjukkan bahwa 63% dari 1.480 orang percaya bahwa produk GMO tidak aman dikonsumsi. Survey serupa juga dilakukan terhadap para ilmuwan di American Association for the Advancement of Science, menunjukkan hasil berkebalikan, dimana 88% para ilmuwan percaya bahwa GMO aman untuk dikonsumsi.

Tentu saja tingkat kepercayaan yang tinggi dari para ilmuwan ini didukung dari berbagai sumber kredibel. WHO, the American Medical Association, the European Commission, the Royal Society and the American Association for the Advancement of Sciences (AAAS), telah mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa makanan hasil rekayasa genetika aman. Terdapat juga 2000 penelitian saintifik yang menunjukkan bahwa tidak ada efek negatif terhadap manusia dan hewan akibat mengkonsumsi GMO.

Pertanyaannya kemudian, jika data saintifik menunjukkan bahwa GMO aman untuk dikonsumsi, mengapa begitu banyak kontroversi? Dalam sebuah laporan yang diterbitkan oleh Forbes, mengungkapkan bahwa masalah utama kontroversi dari GMO bukan terletak pada rekayasa genetika yang dilakukan atau bagaimana teknologi memberikan dampak lingkungan. Tanaman hasil rekayasa genetika mungkin adalah jawaban terhadap masalah kelaparan, pemanasan global, dan juga perubahan iklim yang terjadi. Namun, yang perlu dikhawatirkan adalah bagaimana implementasi bisnis dari GMO dijalankan.

Bisnis GMO sangat berkaitan erat pada bisnis benih. Sedangkan bisnis benih akan berhubungan dengan bisnis pupuk dan juga pestisida. Tiga hal ini, benih, pupuk, dan pestisida, adalah “Holy Trinity” dari pertanian modern. Pada tahun 1993, ada puluhan, bahkan ratusan perusahaan penghasil benih, dan juga ada banyak perusahaan pupuk dan pestisida.

Pada periode 1990-an hanya tersisa enam perusahaan besar yang mendominasi bisnis, Monsanto, Syngenta, DuPont, Bayer, BASF, dan Dow. Pada tahun 2018, Bayer membeli Monsanto, Dow da Dupont bergabung menjadi Corteva, dan Perusahaan Kimia Cina membeli Syngenta menjadi ChemChina, menyisakan empat pemain besar dalam industri ini. 

Hingga hari ini empat perusahaan ini mengontrol lebih dari 60% penjualan benih, pupuk, dan pestisida. Sekaligus memegang paten terhadap benih GMO yang mereka jual. Monopoli dan kontrol akan mengarahkan riset dan pengembangan menuju varietas benih yang seragam. Ini membuat perusahaan tersebut dapat mengontrol pasar sekaligus membatasi persaingan. Dengan jumlah pemain bisnis yang terbatas dan dominasi pasar, akan membuat harga benih dikendalikan oleh perusahaan tersebut.

Menurut Pat Money, direktur eksekutif dari lembaga think tank Canada, ETC Group, dominasi ini telah menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, “Kita sedang menuju perubahan keseragaman genetik dalam sistem pangan kita.” Fakta ini dikemukakan denngan merujuk pada data dari FAO bahwa tanaman pangan telah kehilangan 75% dari keanekaragaman genetik sejak 1900-an.

Dengan hilangnya keanekaragaman hayati, maka hilang juga alternatif yang dimiliki untuk melawan perubahan yang terjadi. Belum lagi berdasar penelitian yang disponsori oleh UN dan Bank Dunia menunjukkan bahwa tanaman GMO memiliki peran yang kecil dalam menyelesaikan kemiskinan, kelaparan, dan perubahan iklim.

Faktor yang berkontribusi terhadap itu semua adalah orientasi keuntungan dari perusahaan-perusahaan benih, dimana mereka memanfaatkan paten untuk mengecilkan petani dan kebebasan mereka untuk berkeksperimen terhadap benih dan mengembangkan benih mereka sendiri. Ini membuat petani tidak bisa memproduksi benih mereka sendiri. Mereka harus membeli benih pada perusahaan setiap tahun.

Untuk merawat benih ini, petani juga harus membeli pestisida dan pupuk juga dari perusahaan yang sama. Dengan kata lain, menanam benih GMO berarti membeli sistem yang mengharuskan petani bergantung terhadap empat perusahaan. Ini juga menunjukkan untuk pertama kalinya dalam sejarah, petani tidak punya kontrol dan hak milik terhadap benih yang mereka tanam.

Maka apakah tanaman GMO aman?