Pada Suatu Hari Nanti, Beristirahatlah Pak Sapardi

Visual: Galih Kartika

Sapardi Djoko Damono wafat meninggalkan karya legendaris.

“Pada suatu hari nanti

Jasadku tak akan ada lagi

Tapi dalam bait-bait sajak ini

Kau takkan kurelakan sendiri”

Dan pada suatu hari nanti, akan aku ceritakan kepada anak-cucuku kalau ponsel di tahun 2020 menyaru sebagai kotak surat penerima berita kematian. Entah itu kematian orang-orang terdekat, atau pun idola semasa remaja seperti penulis Sapardi Djoko Damono. Entah mereka berguguran karena pandemi, atau termakan usia seperti penulis Sapardi Djoko Damono.

Hari ini, tanggal 19 Juli 2020, Sapardi Djoko Damono menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Eka BSD, Tangerang Selatan. Diberitakan sebelumnya, mendiang telah dirawat inap sejak 12 Juli 2020 karena kondisi organ tubuhnya semakin menurun faktor usia. Penulis puisi yang liris melalui kesederhanaan diksinya itu, tutup usia di angka 80.

Delapan puluh tahun lalu, ia lahir di Solo, Jawa Tengah tepatnya tanggal 20 Maret 1940. Masa remajanya dihabiskan di kota kecil itu, sembari menuangkan hobinya dalam menulis. Karya-karyanya sering dimuat di majalah. Hingga akhirnya ia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta jurusan Sastra Inggris pada 1958. Usia mudanya dihabiskan untuk menjajaki kota-kota di Jawa dan menjelajahi bidang-bidang sastra serta teater.

Kemahirannya berbahasa Inggris kemudian mengantarkannya pada kerja-kerja penerjemahan. Sebelum dikenal sebagai penulis sajak, ia lebih dulu hidup dari menerjemahkan ragam tulisan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Terjemahan pertamanya adalah novel Ernest Hemingway “The Old Man and The Sea” menjadi “Lelaki Tua dan Laut” yang diterbitkan tahun 1973 oleh Pustaka Jaya.

Berita kematian Pak Sapardi membawa ingatan saya kembali ke tiga tahun lalu, ketika saya menemani Tomi Wibisono mewawancarai mendiang selepas mengisi diskusi di Yogyakarta. Tubuh rentanya kembali bugar ketika bercerita tentang kesusastraan Indonesia yang ia geluti sepanjang hayatnya. 

Tentang penerjemahan, Pak Sapardi percaya diri menyampaikan lubang mana yang seharusnya ditutup. Masalahnya, selain gaji yang murah, penerjemah Indonesia kebanyakan kurang memahami Bahasa Indonesia itu sendiri. “Terjemahan kita jelek-jelek itu bukan karena mereka tidak menguasai bahasa asing, tapi karena mereka tidak menguasai Bahasa Indonesia. Penerjemah itu kan mentransfer sebuah kebudayaan ke kebudayaan kita.”

Ia menambahkan, proses penerjemahan adalah proses yang tidak harus setia. Dalam artian, ia tidak harus sama persis dengan bahasa asalnya, melainkan konteksnya yang dipertahankan. “Kalau setia itu jelek, hancur. Bayangin aja kalau satu alinea 10 kalimat, kita harus sama 10 kalimat. Hancur itu. Kalau saya, misalnya 10 kalimat, saya jadiin 5 kalimat. Terjemahan itu bagi saya terletak di keterbacaannya. Harus bisa dibaca. Bukan perkara benar atau salah. Terjemahan yang salah itu yang nggak bisa dibaca.”

“Pada suatu hari nanti

Suaraku tak terdengar lagi

Tapi di antara larik-larik sajak ini

Kau akan tetap kusiasati”

Bicara karya, kumpulan puisi pertamanya “Duka-Mu Abadi” diterbitkan tahun 1969. Di masa itu, banyak sastrawan Angkatan 66 yang ‘dibaptis’ HB Jassin, melahirkan karya-karya bertemakan sosial-politik. Namun, Pak Sapardi justru menyoal kedirian manusia dengan segala sepi dan ketuhanannya. Kelak, buku ini mendapat Anugerah Budaya (Cultural Award) dari Australia tahun 1978. 

Menyusul kemudian “Mata Pisau” dan “Akuarium” pada 1974, serta “Perahu Kertas” dan “Sihir Hujan” di tahun 1983. Penghargaan di tahun yang sama ia dapatkan dari The Putera Poetry Award dari Malaysia. setahun kemudian giliran Dewan Kesenian Jakarta bidang Sastra di tahun 1984. Ia juga pernah mendapat penghargaan SEA Write Award di tahun 1986. Karyanya paling dikenal hingga hari ini dan dicetak belasan kali yaitu “Hujan Bulan Juni: Pilihan Sajak” tahun 1994. Selain sajak-sajak puisi, sejumlah cerpen, novel, dan buku-buku non-fiksi pernah ia tuliskan.

Semasa hidupnya, Pak Sapardi menjelma menjadi institusi. Identitasnya tidak berhenti sebagai penulis. Ia pernah menjabat direktur pelaksana di Yayasan Indonesia—kemudian menerbitkan majalah Horison, menjadi salah satu pendiri Yayasan Lontar, dan menjadi anggota di Dewan Kesenian Jakarta. Ia pernah menjadi redaktur majalah Basis, Kalam, Tenggara, dan lain-lain. Ia pernah mengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, menjadi dekan, hingga dikukuhkan sebagai guru besar.

Salah satu hal yang menyebabkan puisinya sampai ke generasi hari ini adalah alih wahana. Beberapa mahasiswanya di FIB UI seperti Ari Malibu dan Reda Gaudiamo melalui duo AriReda mengalihwahanakan puisi-puisinya menjadi lagu. Di antarnya berjudul “Aku Ingin”, “Hujan Bulan Juni”, “Pada Suatu Hari Nanti”, dan sebagainya. Band asal Yogyakarta, Melancholic Bitch, sempat melagukan pusisi Pak Sapardi berjudul “Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate, San Fransisco”.

“Pada suatu hari nanti

Impianku pun tak dikenal lagi

Namun di sela-sela huruf sajak ini

Kau takkan letih-letihnya kucari”

Mendiang Pak Sapardi akan dikebumikan di Taman Pemakaman Giritama, Giri Tonjong, Bogor. Kepergiannya menyisakan duka bagi dunia sastra Indonesia. Namun, selayaknya puisi yang ia tulis berjudul “Pada Suatu Hari Nanti”, Pak Sapardi tidak perlu khawatir meninggalkan warisan kebudayaannya. 

Meski jasadnya telah pergi, suatu saat suaranya tak terdengar lagi, dan kelak impiannya pun tak dikenal lagi, akan tetap ada yang rela menemanimu melalui bait-bait, akan tetap ada yang mensiasatimu melalui larik-larik sajak, dan akan tetap ada yang tak letih-letihnya mencarimu di sela-sela huruf sajak-sajak. Selamat beristirahat, Pak Sapardi!