Mitos Menyuburkan Tanaman Lewat Musik

Visual: Otong

Beberapa aransemen musik dipercaya bisa menyuburkan tanaman, meski berbagai penelitian telah membantahnya.

Pada 17 Juni lalu, tepatnya di Barcelona, sebuah konser yang dikhususkan untuk tanaman digelar. Dengan melibatkan 2.292 yang dikumpulkan dalam pot, Eugenio Ampudia selaku konseptor dari acara ini mengatakan bahwa konser ini adalah sebuah bentuk refleksi dan empati hubungan manusia dan alam saat pandemi terjadi. Konser yang juga sebagai bentuk perayaan pembukaan kembali rumah opera ini kemudian menyumbangkan 2.292 tanaman yang sudah “dihibur” itu untuk para tenaga kesehatan sebagai bentuk rasa terima kasih.

Konser di Barcelona ini sepertinya yang menjadi inspirasi grup duo asal bandung, Bottlesmoker, untuk mengadakan konser musik yang digelar khusus untuk tanaman. Konser yang mereka bernama Plantasia itu rencananya akan dihelat pada 25 Juli mendatang dengan melibatkan tanaman-tanaman yang didaftarkan khusus oleh pemiliknya. Perbedaannya, dalam konser ini Bottlesmoker mengklaim bahwa komposisi musik mainkan dapat membuat tanaman berbahagia dan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman.

Kepercayaan bahwa musik dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman telah muncul sejak lama. Pada tahun 1973, Peter Tompkins dan Christopher Bird menerbitkan sebuah buku berjudul The Secret Life of Plant. Buku ini mendokumentasikan percobaan-percobaan kontroversial yang bertujuan untuk membuktikan fenoman bahwa tanaman memiliki kesadaran.

Melalui berbagai percobaan yang dilakukan, Tompkins dan Bird berusaha menunjukkan bahwa tanaman jauh lebih kompleks daripada yang manusia bayangkan. Salah satu klaim utamanya adalah kesehatan dan produktivitass tanaman dapat dipengaruhi, tidak hanya dengan bermain musik untuk tanaman, tetapi juga jenis musik apa yang manusia mainkan untuk mereka.

Buku ini sebenarnya memunculkan kontroversi dan mendapat berbagai penolakan dari berbagai ilmuwan karena dianggap mempromosikan klaim-klaim pseudosainstifik. Namun, justru kontroversi inilah yang membuat buku ini menjadi buku nonfiksi terlaris versi New York Times di tahun 1974. 

Selain itu, banyak artis mulai membuat berbagai macam musik dan komposisi yang didesain khusus untuk tanaman, seperti sebuah tribute untuk tanaman atau berkolaborasi dengan tanaman. Salah satu komposer ternaman yang turut mempercayai hal ini adalah Stevie Wonder. Bahkan Stevie Wonder menciptakan album di tahun 1970-an berjudul Journey Through the Secret Life of Plant yang diadedikasikan khusus untuk video dokumenter buku Tompkins dan Bird.

Selain Wonder, banyak musisi lain yang juga mempercayai hal ini. Komposer kenamaan Perancis Roger Roger yang merilis album De la Musique et des Secrets pour Enchanter vos Plantes (Music and Secrets to Enchant Your Plants) yang bernuansa elektrik klasik, atau Mort Garson dengan album bernuansa elektrik yang berjudul Mother Earth's Plantasia. Ada juga Kurt Attard dengan Brainwave Power Music dari Australia dengan lebih 500 juta subscriber. Dia menggunakan “binaural beats dan isochronic tone” untuk tanaman.

Di Jerman ada Music for Growing dari B Ashra yang dibuat secara khusus untuk merawat tanaman dengan menggunakan apa yang diasebut sebagai "molecular frequency". David Edren dari Belgia yang terinspirasi dari Plantasia-nya Garson membuat Music for Mimosa Pudica & Codariocalyx, sebuah proyek minimalis yang didedikasikan untuk tanaman yang dia tanam di rumah. Meskipun buku the Secret Life of Plants menemukan pengikut yang percaya terhadap klaim mereka, buku ini tetap saja menjadi sumber klaim-klaim pseudosains yang berbicara tentang hubungan antara tanaman dan musik.

Namun, pada tahun 2017 sebuah penelitian yang dilakukan oleh Monica Gagliano, seorang biologis dari University of Western Australia menunjukkan bahwa tanaman dapat “mendegar.” Gagliano melakukan percobaan ini dengan menempatkan benih kacang plong dalam pipa berbentuk Y. Satu pipa mengarah pada air yang mengalir dan lubang lainnya mengarah pada tanah kering.

Hasilnya, akar tumbuh menuju pipa dengan air meskipun tidak ada akses atau lubang didalam pipa yang dapat menjangkau air. Gagliano menyatakan bahwa tanaman tau dimana air dengan mendeteksi suara yang muncul di dalam pipa. Namun ketika benih diberikan pilihan antara air dan tanah yang lembab, akarnya mengarah pada tanah lembab. Hipotesis dari Galiano menyatakan bahwa tanaman dapat mendeteksi getaran yang dipancarkan oleh suara air tapi tetap mengikuti kelembaban tanah yang dirasa jauh lebih dekat.

Penelitian lain di tahun 2014 menunjukkan hasil yang kurang lebih sama. Penelitian lain di tahun 2014 ini menunjukkan bahwa tanaman arabidopsis thaliana dapat membedakan suara dari ulat yang mengunyah daun dan getaran dari angin. Tanaman terbukti menghasilkan lebih banyak racun setelah menangkap getaran dari serangga.

Namun, kesimpulan dari berbagai riset tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya tanaman tidak benar-benar bisa mendengar dan mempersepsikan suara seperti manusia. Michael Schoner, biologis di University of Greifswald di Jerman berpendapat bahwa tanaman mungkin memiliki organ yang dapat menerima suara. Tapi bukan benar-benar suara dari musik, melainkan getaran yang diciptakan oleh gelombang suara. Dengan kata lain, getaran memproduksi gerakan pada dinding sel yang menstimulasi tanaman untuk memproduksi nutrient.

Writer: Rijensa Akbar

Editor: Ardhana Pragota