Menilik Popularitas Film Tilik

Visual: Galih Kartika

Bagaimana film pendek produksi 2018 baru gempar di tahun 2020?

Sebelum disebarluaskan via YouTube pada 17 Agustus 2020, karakter Bu Tejo dan film Tilik hanya beredar dari festival ke festival dan dikenal di kalangan tertentu. Tiba-tiba dalam semalam nasib karakter ibu bawel berkerudung hijau berubah drastis. Film Tilik viral, dan Bu Tejo merasuk dalam berbagai perbincangan.

Tilik adalah film pendek yang menggambarkan fenomena budaya menjenguk masyarakat pedesaan garapan sineas Yogyakarta Wahyu Agung Prasetyo dalam bendera rumah produksi Ravacana Films. Film berdurasi hampir 33 menit sejatinya diproduksi 2018 dan lebih memilih menjadi film untuk festival alih-alih komersialisasi layar lebar.

Sebagai film pendek dan produksi karya tanpa kepentingan komersial, efek kejutnya begitu bombastis. Sineas Joko Anwar mengatakan jika belum pernah ada film pendek yang mampu melahirkan arus perbincangan semasif Tilik.

Kata viral memang pantas disematkan kepada fenomena perkembangan jumlah penonton Tilik di YouTube. Dalam sekejap, jumlah penonton naik ke angka belasan ribu. Mengutip data SocialBlade, jumlah penonton channel Ravacana Films meroket 3x lipat dalam 2 hari penayangan Tilik. Hingga Kamis (3/9), Tilik ditonton 21 juta kali dan menjadi penyumbang terbesar channel Ravacana.

Jumlah Penonton Video di Channel Ravacana Films Setelah Tilik


Sumber: SocialBlade

Keramaian penonton di YouTube saling terkait dengan percakapan di dunia maya. Pada 15 Agustus dua hari sebelum upload, Ravacana sebelumnya mengumumkan bakal merilis film Tilik. Tim produksi memang menyiapkan strategi pemasaran ke berbagai kanal dan mengontak influencer. Materi promosi sengaja menonjolkan Bu Tejo sebagai sorotan utama. Tujuannya saat itu tak rumit: yang penting orang tahu ada film berjudul Tilik.

Di hari pengunggahan, ada kejadian tak sesuai rencana. Wajah Bu Tejo beredar lebih luas dari yang diharapkan. Pengamat Media Sosial Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengungkapkan jika performansi Tilik di media sosial banyak diulas oleh influencer. “Bu Tejo jadi karakter utama yang diceritakannya. Dan ini menarik netizen,” kata Ismail.

Tak pelak perbincangan di Twitter amat deras. Grafik engagement mulai menanjak pada 19 Agustus. Tilik berubah wujud jadi pembicaraan utama dalam ragam topik seperti ibu-ibu gosip, sugar daddy, dan hoax.

Perbincangan Film Tilik di Twitter


Sumber: Drone Emprit

Tapi jangan salah menilai keramaian perbincangan Tilik adalah sebuah fabrikasi yang digerakkan modal. Lewat pantauan Drone Emprit, ramainya keyword Tilik di Twitter bergulir dari berbagai influencer yang menghasilkan engagement secara organik. “Dari 13-19 Agustus, saat awal mulai viral, tampak beberapa top influencers dengan follower masing-masing yang sebenarnya hanya sebagian yang beririsan, mampu membangun jaringan percakapan yang natural,” tambah Ismail.

Tidak hanya di Twitter, keramaian menular ke medium lain macam Instagram dan portal berita. Kantor-kantor media sudah pasti tergiur dengan segala topik yang sedang hangat. Wahyu dan Siti Fauziah selaku pemeran Bu Tejo jadi sibuk memenuhi permintaan wawancara dari media. Berbagai jenis topik bahasan terus lahir, baik soal komentar tokoh sampai pengakuan Ozie yang nangis karena perundungan netizen.

Perbincangan Film Tilik di Instagram dan Portal Berita


Sumber: Drone Emprit

Gejala yang muncul dari sebuah topik viral adalah rasa penasaran khalayak. Setiap rasa penasaran netizen biasanya berujung pada pertanyaan kepada mesin pencarian Google. Usai rilis, keyword Tilik melonjak drastis mencapai angka 100 yang menjadi batas atas perhitungan Google Trend. Padahal keyword Tilik di Google sebelumnya sama sekali tak masuk hitungan.

Pencarian Keyword Tilik di Google


Sumber: Google Trends

Hampir sebulan, Bu Tejo dan mulut nyinyirnya telah menjelma jadi perbincangan layaknya legenda rakyat. Ia terus hidup dalam tongkrongan sampai stiker whatsapp. Apapun perdebatannya, Bu Tejo adalah kita dan kita adalah Bu Tejo.