Menggunakan Data Science untuk Menyingkap Musik BLACKPINK

Visual: Galih Kartika

Mencapai puncak kesuksesan meski baru empat tahun berkarier hanya bermodalkan 14 lagu, kok bisa?

Setiap lagu tak selalu lahir bersama nasib baik yang membuatnya tumbuh merengkuh popularitas. Tapi nestapa itu sepertinya tidak berlaku untuk lagu-lagu BLACKPINK. Dengan total 14 lagu orisinal dan 3 lagu kolaborasi dari tahun 2016, seluruhnya pernah mencatatkan torehan manis (bahkan terlaris) dalam platform Spotify, YouTube, dan Billboard.

Misal torehan Kill This Love (2019) yang menjadi 4 besar Spotify Daily Chart dalam kurun kurang dari sepekan. Lalu lagu How You Like That (2020) yang berhasil mencetok rekor video klip dengan penonton terbanyak dalam 24 jam. Ada lagi As If It’s Your Last (2017) dan DDU-DU-DDU-DU (2018) yang ikut masuk Billboard Bubbling Under Hot 100. Nama nama-nama besar seperti Dua Lipa, Lady Gaga, dan Selena Gomez tak ragu menggandeng BLACKPINK untuk bikin lagu bareng.

Keterkenalan BLACKPINK disebut sebagai kesuksesannya mencitrakan diri sebagai grup yang eksklusif, glamor, dan misterius. Jika dibandingkan dengan grup-grup K-Pop pada umumnya yang bertahan hidup dari comeback album 2-3 kali setahun, BLACKPINK hanya merilis satu konten musik tiap tahunnya, baik itu mini album atau sebatas single. Meski begitu, strategi ini berhasil membuat para fans menjadikan lagu baru BLACKPINK layaknya festival tahunan.

Namun, keagungan BLACKPINK tak hanya soal branding. Jika rilis lagu dengan jeda lama jadi jurus andalan, kenapa ada grup K-Pop dengan gaya yang sama malah tumbang di tengah jalan dengan strategi pasar ala BLACKPINK. Girls' Alert dan Gugudan adalah contohnya.

Kami penasaran pada musikalitas BLACKPINK. Untuk menjawabnya, kami kemudian memproses data Spotify API, kita dapat menguliti diskografi BLACKPINK. Ada setidaknya tujuh indikator; energy yang mengukur energi dari sebuah nomor, speechiness yang merujuk pada kerapatan kata dalam lagu. 

Kemudian accousticness yang mengukur seberapa jauh efek dan distorsi pada tiap alat musik, instrumentalness yang merujuk pada ragam instrumen yang dipakai dalam satu lagu, liveness yang mengukur produksi musik dengan perandaian ketika lagu ditampilkan secara langsung, valence yang merujuk pada emosi yang dimunculkan lagu, dan danceability merujuk pada seberapa ideal sebuah lagu untuk membuat pendengar menari.

Track Character BLACKPINK

Sumber: Spotify API

Secara umum BLACKPINK menonjolkan aspek danceability, energy, dan valence, yang dapat diartikan jika lagu-lagu Lisa dkk enak buat joged dan memberi efek positif saat mendengarkannya. Angka ketiga elemen yang tinggi seirama dengan lagu-lagu yang populer di tahun 2019 yang dikuasai musik EDM.

Hal ini juga terlihat ke masing-masing lagu. Untuk itu, mari kita bedah lagu dan album BLACKPINK lewat playlist mereka di Spotify.

Square One (2016)

Square One (2016) adalah mini album berisikan dua lagu, Boombayah dan Whistle yang menandakan hadirnya BLACKPINK untuk pertama kalinya di hadapan publik. Tak tanggung-tanggung, lantunan pembuka “BLACKPINK in your area” oleh Jennie dalam lagu Boombayah jadi pengantar reff menggelegar dengan energi yang mencapai angka 0,77.

Track Character Album ‘Square One’

Sumber: Spotify API

Tingginya intensitas energi pada album ini senada dengan lirik “Every time I show up, blow up,” sebagaimana dinyanyikan Jennie dan Lisa dalam Whistle. Di saat yang sama, kecilnya angka speechiness di 0,102 menandakan kata-kata dalam lagu yang begitu renggang. Hal ini membuat pendengar fokus pada efek musik yang berat dan bass yang bikin deg-degan di reff dan bagian interlude, terutama pada lagu Boombayah.

Square Up (2018)

Selang dua tahun, pasca hiatus satu tahun dari dunia musik, grup jebolan YG Entertainment ini kembali dengan album Square Up (2018). Single andalannya, DDU-DU-DDU-DU membawa pendengar mangap dengan rap Jennie dan Lisa di awal lagu, lalu diberi pre-chorus yang mendayu oleh Jisoo dan Rosé, sebelum pada akhirnya dipaksa mengangguk-anggukan kepala ketika bass ngedrop di reff.

Track Character Album ‘Square Up’

Sumber: Spotify API

Lagu ini berkontribusi besar bagi angka energi yang hampir mentok di angka 0,906. Varian utama lainnya adalah aspek danceability. Di tahun 2018, DDU-DU-DDU-DU bersama kawan se-album-nya Forever Young juga sempat viral karena koreografinya. Bahkan DDU-DU-DDU-DU memenangkan penghargaan Tarian Terbaik di MelOn Music Awards 2018. Tak heran, selain kredit harus diberikan pada koreografinya, struktur lagu-lagu dalam Square Up memang cocok untuk menari (0,67).

Kill This Love

Kill This Love (2019) dibuka dengan drum dan tiupan terompet ala marching band yang megah dan bikin merinding. Lagu yang menceritakan upaya melawan sisi lemah diri sendiri agar bisa keluar dari hubungan cinta beracun ini memanen tingkat valence di angka 0,446. Lewat drop bass di pertengahan reff yang ditemani oleh terompet berisik, pendengar seakan dibuat ingin mengangkat tangan dan membentak marah; you must kill this love, before it kills you too.

Track Character ‘'Kill This Love'

Sumber: Spotify API

Lagu-lagu dalam album ini lebih melankolis ketimbang album sebelumnya, Square Up, yang lebih riang dan bersemangat (valence 0,606). Kick It, yang masih punya unsur gitar akustik tipis-tipis di bagian pre-chorus, mengisahkan proses menemukan diri sendiri usai putus cinta. Begitu pula lagu balada Hope Not yang jadi lantunan apologi pasca menyakiti cinta lama. Album ini juga menjadi album dengan acousticness tertinggi dalam diskografi BLACKPINK, yakni 0,182.

Di samping amarah dan nestapa yang sedikit banyak dirasakan dari album ini, rupanya BLACKPINK tetap konsisten soal energi (0,724) dan cara mengajak kita menari (0,664). Pun pendengar dipaksa terombang-ambing akibat mood-swing dalam album ini, Kill This Love sukses membuat kita mencoba menghafal koreografi di depan kaca.

How You Like That

Lebih dari 400 hari adalah waktu yang dibutuhkan bagi fans BLACKPINK menikmati lagu baru grup kesayangannya. Pada 26 Juni 2020, dunia dibuat geger dengan How You Like That yang sempat memecahkan lima rekor dunia, termasuk video paling banyak ditonton dalam 24 jam di YouTube.

Track Character ‘'How You Like That’

Sumber: Spotify API

Meski dengan drop bass di bagian reff yang amat khas BLACKPINK, lagu ini sebenarnya agak pedih. How You Like That memiliki tingkat valence paling rendah ketimbang lagu mana pun dalam diskografi BLACKPINK (0,351). Jangan biarkan rap Lisa yang catchy ini mengelabui, lagu ini menceritakan usaha merangkak dari keterpurukan, yang bagi para fans menggambarkan perjalanan grup ini menghadapi penundaan demi penundaan terhadap jadwal rilis musik oleh labelnya sendiri.

Uniknya, sembari punya unsur valence terendah, How You Like That justru memiliki tingkat danceability paling tinggi dibandingkan lagu-lagu BLACKPINK lainnya (0,828). Lagu ini memang berjalan relatif pelan sebelum Rosé menutup umpatannya dengan pekikan “You should have ended me when you had the chance, look up in the sky, it’s a bird, it’s a plane,” yang diikuti dengan kerasnya drum dan bass tanpa henti hingga akhir lagu.

Tingginya angka danceability dalam lagu ini amat terbukti. Hanya butuh tiga bulan bagi video How You Like That Dance Performance untuk jadi video tarian K-Pop paling banyak ditonton ketiga sepanjang masa (247 juta). Angka ini hanya berada di bawah dua lagu BLACKPINK lainnya, yaitu Kill This Love (283 juta) dan DDU-DU-DDU-DU (327 juta).

Ice Cream (2020)

Biasa tampil dengan citra gelap dan badass, BLACKPINK baru-baru ini menggandeng Selena Gomez dalam lagu dengan konsep yang lebih ceria. Ice Cream (2020) hadir dengan bass yang lebih santai tapi tetap dengan beat yang bikin pendengar goyang, sembari merayakan musim panas dan menjadi hiburan saat pandemi.

Track Character Lagu ‘Ice Cream’

Sumber: Spotify API

Danceability dalam lagu ini mencapai 0,79, tertinggi kedua dalam diskografi BLACKPINK setelah How You Like That. Lagu yang notabene berbahasa inggris ini mencapai tingkat valence di angka 0,91, tertinggi di antara lagu-lagu BLACKPINK lainnya. Semakin tinggi angka valence maka semakin positif emosi yang dihadirkan seperti euforia dan bahagia. Sebaliknya, semakin rendah angkanya, semakin negatif pula emosinya, misal amarah, sedih, dan depresi.

Tingginya unsur valence dari lagu Ice Cream amat berbeda dari lagu-lagu BLACKPINK biasanya yang cenderung membuat pendengar ingin melompat dan teriak, seperti Kill This Love, misalnya.

Ini jadi tanda bahwa terlepas dari apapun emosi yang dihadirkan, entah rasa ingin menjerit atau menjalani hari dengan tersenyum, BLACKPINK akan membawamu berdansa.

Riset: Gendis Widodari

Editor: Ardhana Pragota

Issue!

BLACKPINK vs BTS

BLACKPINK dan BTS tak pernah mendeklarasikan permusuhan. Adu popularitas antara keduanya hanya konsekuensi dari popularitas melangit yang tumbuh bersama penggemar fanatik.