Menelanjangi Pencitraan PornHub yang Soksokan Anti-Rasis

Logo Pornhub

Sikap PornHub yang mendukung gerakan #BlackLivesMatter tak mampu menghapus dosanya sebagai platform penuh noda kekerasan seksual.

Ketika kematian George Floyd menghidupkan bara api perlawanan terhadap isu rasialisme di Amerika Serikat, banyak korporasi berlomba mendompleng isu demi menampakkan citra lebih populer. Sikap resmi perusahaan teknologi kakap seperti Youtube, Tesla, dan Twitter secara terang-terangan ikut menentang rasisme. Perusahaan lain juga ikutan, salah satunya kanal video orang dewasa PornHub.

Pada Minggu (31/5), PornHub menyiarkan pernyataan bahwa perusahaan bersolidaritas kepada korban rasialisme. Perusahaan yang berkantor pusat di Montreal, Kanada, ini bahkan mendedikasikan uang 100 ribu dolar AS untuk gerakan.


Apa lacur, pernyataan PornHub justru berbalik jadi sasaran empuk buat dikeroyok beramai-ramai. Twitternya diserang oleh banyak aktivis atas sikap yang tak lebih dari omong kosong. Aktivis feminis sekaligus penulis asal AS lewat akun Twitter @ClaireShrugged, kemudian menunjukkan fakta jika PornHub tak menginternalisasi semangat anti-rasis dalam platformnya.

Konten porno di PornHub berisi video skenario pemerkosaan yang diperankan aktris kulit hitam. Bahkan PornHub sengaja memunculkan tag “black slave girl white master” sebagai tema konten dalam platformnya. “Berhentilah membangun sentimen erotis tentang anti-kulit hitam, kekerasan berunsur seksisme,” tegas @ClaireShrugged.

PornHub lebih serang kena damprat aktivis kesetaraan gender dibanding dukungan. Bukan soal benar-salahnya produk video pornografi yang jadi andalan produk, tapi skenario video porno di dalam PornHub yang banyak mengandung unsur kekerasan seksual bahkan melanggengkan rasialisme itu sendiri.

Misalnya pada Oktober 2019, seorang anak perempuan kulit hitam berusia 15 tahun asal Florida yang hilang selama setahun tiba-tiba muncul di video PornHub. Tidak hanya satu, tapi ada 58 video yang berserak di PornHub dan kanal media sosial lainnya.

Fakta lain yang muncul dari investigasi Vice menyebutkan bahwa banyak aktris porno di PornHub tidak mendapatkan kontrak konsensual dan cenderung mendapat paksaan. PornHub mengaku telah memfilter konten yang ada, namun tak sepenuhnya efektif karena tak punya kontrol terhadap agen-agen yang bertugas menyisir aktris.

Alih-alih memperbaiki diri, PornHub malah terus fokus pada kelangsungan bisnisnya. Mereka berusaha merayu konsumen dengan menggratiskan layanan berbayarnya selama pandemi COVID-19. Manuver ini lagi-lagi panen kritik dari aktivis gender. Saat peringatan International Woman’s Day awal Maret lalu, kantor PornHub di Montreal disamperin demonstran karena mengabaikan isu kekerasan seksual yang tak kunjung usai.

Pada awal Juni lalu, sebuah petisi mendesak Departemen Kehakiman AS untuk menghukum PornHub karena banyaknya konten berbau kekerasan seksual. Petisi itu mengutip penelitian lembaga Internet Watch Foundation yang mencatat 118 kasus kekerasan seksual di bawah umur sampai perdagangan manusia yang terkait dengan PornHub.

“Kami memiliki bukti, dan mungkin itu baru puncak gunung es saja. Saatnya menghentikan laman super-predator ini dan menyeret pimpinan perusahaan untuk menjalani pemeriksaan,” tulis kata pengantar petisi tersebut. Petisi panen atensi dengan meraih 1 juta tanda tangan.