Mencari Manfaat Kencing sebagai Penyubur Tanaman

Visual: Galih Kartika

Kencing punya kandungan yang serupa dengan pupuk.

Pernah kencing sembarangan di kebun tak bertuan? Hampir semua dari kita pernah terdesak oleh kencing yang telah di ujung tanduk, lalu terselamatkan oleh hamparan semak belukar yang secara halu berubah jadi toilet umum di otak kita yang tengah kalut.

Usai kencing tuntas dikeluarkan, ada banyak perasaan kalut bercampur. Dosa nggak ya? Ngotorin nggak ya? Kita seakan menumpahkan air kencing yang identik dengan sifat najis, kotor, dan berbau, kepada tanaman tak bersalah.

Tapi, anggapan itu tak sejauhnya benar. Air kencing atau urin adalah hasil penyaringan racun dalam tubuh dan zat lain dari darah, mengandung air, garam, dan elektrolit seperti potasium, fosfor, dan cairan yang disebut urea atau uric acid. Alih-alih merusak, kandungan potasium dan fosfor adalah kandungan yang ada di pupuk.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa urin aman dan sangat efektif digunakan untuk berbagai macam tanaman. Belum lagi urin didapatkan dengan gratis. Dengan memanfaatkan urin, satu keluarga berjumlah empat orang dapat menghasilkan kira-kira lebih dari 500 liter pupuk setiap tahun.

Memang, memanfaatkan urin sebagai pupuk tanaman yang akan dikonsumsi terdengar menjijikkan. Tapi dengan memanfaatkan urin tidak serta merta tanaman yang ditanam mengandung cairan kencing. Ketika urin disiramkan ke tanaman, tanaman hanya mengambil zat-zat yang dia perlukan untuk pertumbuhannya, sisanya akan hilang bersama tanah.

Siklus ini mirip seperti siklus manusia saat menghasilkan urin. Menurut Håkan Jönsson, seorang peneiliti tentang siklus urin di Swedish Uninversity of Agricultural Sciences, di Uppsala, makanan memberikan nutrient seperti nitrogen sebagai bagian yang komplek dalam molekul organic, tapi sistem pencernaan kita memecahnya menjadi mineral-mineral dasar, lalu dikeluarkan melalui urin yang dibutuhkan tanaman. Secara tidak langsung memanfaatkan urin sebagai pupuk, sama saja mengembalikan apa yang diberikan tanaman kepada tubuh.

Selain itu kekhawatiran mengenai adanya mutasi bakteri melalui urin juga dapat dibantah. Dilasir dari The Guardian, Dr. Krista Wigginton, seorang peneliti dari University of Michigan melakukan penelitian terkait persebaran bakteri dan DNA bakteri dalam urin. 

Dalam penelitian itu, dilakukan denga mengumpulkan lebih dari 100 liter urin dari donor laki-laki dan perempuan di sepanjang Vermont dan menyimpannya dalam jangka 12 dan 16 bulan untuk melihat sejauh mana urin dapat berkembang menjadi bakteri dalam lingkungan. Hasilnya, urin kehilangan kemampuannya untuk berkembang dan berubah menjadi bakteri yang mebahayakan untuk lingkungan.

Jadi apakah mengencingi tanaman pasti berakibat baik bagi tanaman? Jawabannya tentu tidak.

Dalam beberapa kasus tanaman, konsentrasi urea dan nutrien dalam urin terlalu tinggi sehingga dapat merusak mikroorganisme dalam tanah dan berakibat buruk pada pertumbuhan tanaman. Menyiramkan urin secara langsung dapat dilakukan pada tumpukan daun kering, rumput, atau sisa-sisa kertas yang terbuang yang nantinya akan berubah menjadi kompos yang baik untuk tanaman.

Cara lain yang bisa digunakan untuk memanfaatkan urin sebagai kompos adalah dengan mengurangi konsentrasi kandungan dengan menambahkan air sekitar 5 sampai 10 kali dari volume urin yang dikeluaran. Ketika melakukan penyiraman, usahakan juga untuk tidak mengenai tanaman, terutama bagian yang akan dimakan. Menyimpan urin di tempat tertutup juga dapat dijadikan cara untuk membunuh patogen yang mungkin ada dalam kandungan urin.

Writer: Rijensa Akbar

Editor: Ardhana Pragota