Memutus Mata Rantai Sampah Plastik di Industri Kecantikan

Visual: Otong

Tidak hanya produsen saja. Konsumen juga jadi biang keladi sebagai penghasil sampah.

Bulan April 2020 silam Liah Yoo mengumumkan melalui kanal YouTube pribadinya bahwa Krave Beauty—brand skin care yang ia dirikan—tidak akan meluncurkan produk baru di tahun 2020. Keputusan ini merupakan anomali di tengah industri kecantikan yang hobi meluncurkan produk baru tiap bulan. 

Bukan tanpa alasan, influencer itu kemudian mengutarakan kekhawatirannya tentang peningkatan limbah plastik dari produk kecantikan dan perawatan tubuh. “Kita memproduksi terlalu banyak produk sampai-sampai planet kita tak mampu lagi menampungnya,” keluh Liah pada video berdurasi 8 menit tersebut.

Dikutip melalui Telegraph UK, terdapat 16 produk yang rata-rata digunakan oleh perempuan setiap hari. Angka bukan sesuatu yang asing mengingat beberapa dari kita, termasuk saya, memiliki lebih dari 10 produk hanya untuk wajah saja. Menilik meja rias, sebagian besar produk tersebut memang dikemas dengan wadah berbahan plastik dan bukan jenis yang bisa diisi ulang. Dengan durasi penggunaan 1-2 bulan, satu orang bisa menghasilkan 96 sampah plastik hanya dari penggunaan skin care selama setahun.

Fakta yang cukup mengkhawatirkan ini juga telah disuarakan Zero Waste Week sejak lama seperti yang dilansir dari Forbes. Pada studi mereka di tahun 2018, industri kecantikan memproduksi lebih dari 120 miliar kemasan yang tidak dapat didaur ulang. Maka, jika kita berasumsi tiap produk memiliki panjang 8 cm, dengan mengumpulkan sampah tersebut kita bisa melakukan perjalanan bolak-balik ke Bulan sebanyak 20 kali!

Berita buruk ini sudah seharusnya diatasi secara kolektif. Bukan hanya industri yang patut mencari solusi, para pengguna juga harus melakukan refleksi dan mengubah kebiasaan konsumerisme produk skin care dan perawatan tubuh. 

Sejak awal kampanye untuk menyelamatkan Bumi dari limbah plastik didengungkan, reduce menjadi cara pertama yang disosialisasikan pada masyarakat sebagai konsumen. Liah Yoo kembali menekankan di videonya bahwa terdapat hierarki dalam taktik mengatasi sampah plastik, yakni dengan meminimalisir pembelian produk-produk yang tidak esensial dan penting bagi wajah.

Usaha untuk mengurangi pemborosan skin care sendiri diamini oleh dermatolog asal Ronald Reagan UCLA Medical Center. Kepada SELF, dr. Emily Newsom menuturkan kalau perawatan dasar untuk wajah hanya terdiri dari tiga jenis produk; pembersih, pelembap, dan tabir surya. Tiga tahap perawatan ini telah memenuhi syarat untuk memiliki kulit yang sehat dan terawat; pembersihan wajah dari kotoran dan sel kulit mati, menjaga kadar hidrasi kulit, dan perlindungan memadai dari bahaya sinar UV. Masing-masing dari kita hanya perlu menelaah kebutuhan dan permasalahan lain pada lapisan epidermis hingga mampu mengetahui mana produk yang tepat guna bagi kulit.

Pengurangan konsumsi produkskin care juga dapat diikuti dengan pemilihan brand yang memiliki prinsip eco-friendly. Jenama seperti Love Beauty & Planet, Herbivore Botanicals, Lush, dan Krave Beauty telah bergabung dalam gerakan untuk menjaga bumi lewat kemasan yang ramah lingkungan atau bisa diisi kembali. Reuse merupakan tahap kedua dari kampanye penyelamatan Bumi dengan recycle sebagai ikhtiar ketiganya. untuk memangkas jumlah sampah plastik dari industri kecantikan. 

Masing-masing dari kita sebenarnya bisa mendaur ulang kemasan bekas produk skin care menjadi barang-barang kecil yang berguna seperti tempat kuas makeup hingga alat tulis. Selain itu, beberapa brand juga telah berkomitmen untuk melakukan recycle dengan strateginya masing-masing. Sebut saja The Body Shop dengan program pengembalian kemasan kosong yang dihargai dengan potongan harga untuk pembelian selanjutnya atau Unilever dengan inisiasi Refill Station-nya yang bisa ditemukan di Bintaro.

Dalam upaya mereduksi kerugian yang diterima oleh lingkungan akibat limbah kemasan produk kecantikan, diperlukan kekompakan dari pelaku industri serta pemakai dalam menjalankan aksi 3R (reduce, reuse, dan recycle). Tanpa tindakan yang nyata dari masing-masing pihak, bukan tidak mungkin jika kita akhirnya tenggelam di antara lautan kemasan yang dulu kita pakai sendiri.