Memenuhi Hasrat Dominasi Instagram dengan Mencontek Snapchat hingga TikTok

Visual: Otong

Snapchat sudah ngerasain gimana rasanya kalang kabut karena fiturnya dipakai sama Instagram. Sekarang giliran TikTok.

Waktu sekolah dulu, guru bilang menyontek adalah perilaku haram dalam meniti jalan meraih kesuksesan. Ucapan itu bisa jadi benar bila kejujuran adalah soal integritas. Sayangnya, realita hidup malah menunjukkan bahwa anjuran untuk tidak mencontek karya orang lain tidak sepenuhnya tepat.

Dunia hari ini menyaksikan kisah sukses yang berawal dari kegemaran memakai apa yang sudah dibuat oleh orang lain dengan susah payah. Salah satu pelakunya adalah Instagram yang punya hobi menjiplak fitur platform kompetitornya, tapi tetap berjaya dengan 1 miliar umat manusia di muka bumi.

Perkembangan Pengguna Instagram

Sumber: eMarketer

Instagram sebenarnya tidak bisa dituduh sebagai tukang plagiat. Aplikasi jejaring sosial bikinan Kevin Systrom langsung mendapat sambutan meriah saat rilis Oktober 2010. Instagram berhasil mendapatkan 100 ribu pengguna dalam satu pekan, menandakan konsep platform yang hanya berfokus pada foto benar-benar menjawab kebutuhan peselancar dunia maya.

Usai dicaplok raksasa teknologi Facebook pada tahun 2012, kebesaran Instagram dimulai. Instagram diburu ambisi untuk menjadi platform besar agar bisa sejajar dengan induknya. Menjelang tahun 2015, format foto khas Instagram terancam oleh format video lewat YouTube dan Snapchat.

Lalu apa yang dilakukan Instagram? November 2016, fitur Instagram Stories rilis secara mengejutkan. Format video pendek yang bakal hilang dalam 24 jam itu memiliki konsep sama persis, termasuk desain interface berbentuk bulat sebagai galeri para pengguna.

Fitur baru Instagram itu memupus harapan muluk akan masa depan lebih baik yang diidamkan Snapchat yang terlanjur melantai di bursa saham pada Februari 2017. Snapchat terus memperbarui fitur, seperti berbagi “snap” antar-pengguna dan “tagging” berdasarkan geografis. Sayang, keberuntungan tetap berpihak pada Instagram. April 2017 atau 5 bulan setelah rilis, pengguna harian Instagram Stories telah meninggalkan Snapchat dengan angka yang telak.

Persaingan Snapchat Melawan Instagram

Sumber: Laporan Snapchat dan Instagram via VOX

Banyak yang bilang jika Instagram Stories adalah kisah contek mencontek paling brutal yang pernah terjadi. Meski kemudian anggapan itu ditanggapi dengan datar oleh CEO Instagram Kevin Systrom yang berkelit bahwa timnya hanya merespons kebutuhan pengguna. “User ingin berbagi lebih banyak hal, tapi tidak ingin menunjukkannya ke dinding galeri mereka,” kata Kevin kepada VOX.

Kevin juga menambahkan, jika Snapchat tidak bisa mengklaim secara eksklusif format video pendek berukuran portrait karena hanya sebuah format yang bisa saja diduplikat oleh siapapun. “Kami selalu bisa menjaga jati diri kami,” tegas Kevin.

Facebook versus Instagram versus Snapchat

Sumber: Similar Web

Anggapan Kevin tak sepenuhnya salah. Raksasa teknologi sebenarnya punya watak tukang nyontek. Misalnya model hashtag yang dipakai Facebook, Instagram, sampai TikTok, merupakan produk asli Twitter. Belum lagi format foto, video, dan teks yang sudah pasti umum dalam media sosial.

Namun, Instagram tampaknya ketagihan memanfaatkan fitur yang sudah dikembangkan kompetitornya. Instagram selanjutnya mengembangkan IGTV, sebuah video berbentuk portrait berdurasi panjang yang kurang lebih hampir mirip YouTube. Kemudian pada Agustus lalu, Instagram memasang format video pendek editan yang sama persis dengan TikTok bernama Reels.

Kehadiran TikTok memang mengusik platform media sosial mapan macam Instagram. Selama pandemi COVID-19, jumlah download TikTok hampir menyaingi Instagram. Bahkan TikTok dianggap sebagai representasi Generasi Z, dengan jumlah pengguna berumur 16-24 tahun sebanyak 41 persen.

Data Perbandingan Pengguna Media Sosial

Sumber: We Are Social/Hootsuite

Reels memiliki desain interface yang sama persis dengan TikTok. Username, caption, dan trek audio berada di kiri bawah. Sementara gestur mengganti konten dengan mengetuk ke bawah membuat Reels seperti layanan kloningan. Kolom Reels terletak di sebelah feed persis, dan unggahan Reels tak akan bercampur dengan unggahan foto Instagram atau mirip dengan Instastory.

Akankah Reels bakal membantu Instagram memberangus TikTok? Tampaknya kejayaan Instagram Stories bakal sulit terulang kali ini. Dalam survei Mediakix terhadap para influencer di Amerika Serikat, separuh dari mereka telah menggunakan Reels dan tak mendapat kesan bagus. Selain itu, ada 43,7 persen influencer yang tak berencana menggunakan Reels untuk kontennya dan tetap di TikTok.

Meski first impressionnya tak terlalu baik, Instagram bisa saja menelikung TikTok. Instagram bersama Facebook cukup mapan dalam mengelola jaringan konten kreator dan penggunanya. Kita tunggu saja, apakah tukang nyontek ini kembali sukses atau malah melempem.