Membongkar Data Ketimpangan Gender dan Rasialisme dalam Penghargaan Oscar

Visual: Galih Kartika

Dengan bertambahnya keberagaman juri Oscar, ketimpangan gender dan ras bisa teratasi.

Yayasan induk penghargaan Oscar, Academy of Motion Picture Arts and Sciences, telah memenuhi janjinya untuk menjadi ruang lebih inklusif. Untuk perhelatan Oscar tahun 2021, The Academy telah mengundang juri dengan latar belakang lebih beragam. Sebanyak 49 persen juri berasal dari luar Amerika Serikat dan 45 persen perempuan, yang salah satunya adalah sineas perempuan Indonesia, Amelia Hapsari

Arah angin berubah usai ketimpangan gender dan warna kulit yang telah berlangsung menahun, panen sorotan negatif. Kemenangan film Korea Selatan, The Parasite, dalam gelaran Oscar 2020 ternyata tak cukup menebus dosa. Ketika kampanye Black Lives Matter menggema, The Academy langsung intropeksi.

Memang, apa pentingnya keberagaman dalam daftar juri? Dengan kebaruan itu, apakah masalah ketimpangan gender dan ras di Oscar bakal terselesaikan?

Sebenarnya gelaran Oscar dalam satu dekade terakhir mulai berusaha melunturkan dominasi pelaku industri berlatar belakang kulit putih. Namun, kemajuan ini berlangsung lambat karena pemain maupun pelaku kelompok minoritas masih sulit mendobrak hegemoni.

Pemeran Aktor Utama dalam Film


Sumber: Hollywood Diversity Report 2020

Bahkan kelompok minoritas jumlahnya masih kalah jumlah jika menghitung data rinci keseluruhan pemain. Jika menghitung secara total mulai dari aktor utama, pemeran pembantu, hingga figuran, bintang film kulit berwarna mencapai 22,7 persen. Pemain kulit putih tetap dominan dengan angka 67,3 persen.

Pemeran Film Berdasarkan Ras (2019)

Sumber: Hollywood Diversity Report 2020

Sudah jumlahnya sedikit, probabilitas untuk menang gelaran Oscar juga minim. Pada tahun 1930-an, hanya ada 0,7 persen pemain film kulit hitam yang meraih nominasi. Pemain kulit hitam baru masuk nominasi Best Actor di tahun 1958 ketika Sidney Poitier lewat film The Defiant Ones. Poitier akhirnya kembali mencetak sejarah sebagai Best Actor pertama dalam sejarah penghargaan Oscar pada 1963.

Best Actor: Sidney Poitier nominasi (1958), Sidney Poitier menang (1963), Denzel Washington (2002), Jamie Foxx (2004), Forest Whitaker (2007)

Best Actress: Dorothy Dandridge nominasi (1954), Halle Berry menang (2002)

Best Director: John Singleton nominasi (2001).

Bahkan pada tahun 1975 sampai 1981 dianggap tahun terburuk untuk keberagaman karena tak ada sama sekali nomine bintang kulit hitam. Dahaga baru tuntas pada 1981 kala aktor Howard E. Rollins Jr berhasil mendobrak kebuntuan dengan masuk daftar nominasi usai membintangi “Ragtime”. Kemudian tahun 1987 ketika Morgan Freeman dan Denzel Washington mencuri perhatian, aktor dan aktris kulit hitam mulai diperhitungkan.

Kemajuan lumayan menyenangkan terjadi di kategori aktris pembantu terbaik. Dalam 10 gelaran terakhir, separuh dari pemenang adalah minoritas dengan empat pemeran kulit hitam dan satu ras latin.

Sementara untuk kelompok hispanik juga apes. Menurut data The Washington Post, jumlah bintang hispanik yang masuk nominasi hanya mencapai 2 persen pada tahun 1986 hingga 1990. Sempat naik sampai 6 persen pada periode 2006-2010, angkanya kembali susut di 2 persen pada 2011 sampai 2015. Dalam 30 tahun terakhir, hanya 17 aktor dan aktris hispanik yang masuk nominasi.

Kenapa ketimpangan bisa terjadi? Jika melihat ke bagian produksi dan pengatur rantai komersialisasi, Hollywood amat didominasi orang kulit putih mulai dari jajaran manajemen hingga penulis naskah.

Dominasi Kulit Putih di Jajaran Petinggi Hollywood

Sumber: Hollywood Diversity Report 2020

Penulis naskah sebagai menentukan premis dan karakter disebut faktor kunci dalam mewujudkan keberagaman layar lebar. Penulis naskah kulit putih begitu mendominasi jumlah keseluruhan. “Penulis laki-laki kulit putih memang mendominasi Hollywood, yang kemudian kurang kuatnya penggambaran tokoh kulit berwarna dan perempuan,” tulis laporan Hollywood Diversity Report terbitan University California Los Angeles.

Keterwakilan Ras dalam Profesi Penulis Naskah

Sumber: Hollywood Diversity Report (2020)

Selain faktor sistemis di ranah produksi, isu keberagaman juga tergencet oleh minimnya keterwakilan dalam yayasan The Academy. Pada tahun 2012, laporan Los Angeles Times menyebutkan jika jajaran voters Academy terdiri dari 77 persen laki-laki dan 94 persen ras Kaukasus.

Latar Belakang Tim Juri Oscar 2020

Sumber: Statista

Masalah laten lain dalam Hollywood adalah ketimpangan gender. Mulai dari daftar manajemen yang didominasi laki-laki, hingga minimnya apresiasi terhadap pelaku industri film perempuan atau jenis kelamin lainnya. Ketimpangan gender ternyata juga terjadi di seluruh lapisan produksi film. 

Ketimpangan Gender


Sumber: Professor Martha M. Lauzen, executive director of the Center for the Study of Women in Television and Film at San Diego State University (2018)

Patut diakui jika Hollywood mulai bersalin rupa menjadi ekosistem film yang mengusung keberagaman. Meski lambat, tren memang menuju ke arah positif. Apalagi dari sisi komersial, film dengan talent dengan keragaman etnis sebanyak 40 persen lebih mudah merajai box office dibanding film dengan 80 persen pemeran kulit putih.

Yang terbaik memang harus ditentukan lewat kualitas dan bukan semata-mata iba terhadap sang liyan. Namun hanya lewat sistem yang setara lah, keberagaman dapat terwujud.