Klaster Long Weekend Jadi Prestasi Warga Jakarta yang Gemar Ngelayap Saat Masih Pandemi

Visual: Galih Kartika

Cuti bersama pada Agustus lalu telah memicu pertumbuhan kasus tertinggi di Jakarta selama pandemi.

Jalanan pusat bisnis kawasan Jenderal Sudirman kembali padat. Cafe dan tempat nongkrong di Jakarta Selatan menghentak. KRL dan MRT sudah penuh penumpang berdesakan. Pandemi belum sepenuhnya berakhir, kehidupan metropolitan di Jakarta sudah kembali sesak.

Keramaian di tengah pandemi yang mulai terjadi di DKI Jakarta buntut dari penerapan PSBB Transisi yang lebih longgar dari pembatasan sosial sebelumnya. Dasarnya adalah angka penularan atau Reproduction Number (Rt) yang disebut sampai di bawah angka 1 pada Juni lalu.

Tempat-tempat publik seperti rumah ibadah, tempat hiburan, pusat perbelanjaan, dan pariwisata kembali ramai. Jalur transportasi dari dan ke Jakarta buka lagi. Penerapan protokol kesehatan dianggap jadi jangkar pengaman yang cukup.

Sayangnya, asumsi tersebut salah. Kala long weekend libur Tahun Baru Islam pada Agustus lalu, warga Jakarta yang benyak beraktivitas di luar rumah mulai tengah menanam penyebaran infeksi. Pemerintah menuding biangnya adalah kedisiplinan masyarakat. Di masa pelonggaran malah membawa jumlah kasus yang tinggi. Kasus harian di DKI Jakarta mencapai angka tertinggi selama pandemi.

Jumlah Kasus COVID-19 di Jakarta Setelah Weekend

Sumber: www.coronajakarta.go.id

... akhir bulan Agustus memberi sinyal bahaya bagi DKI Jakarta. Pada 30 dan hingga 31 Agustus, kasus di ibu kota menembus angka 1.000 kasus per hari. Sepertinya long weekend yang diwarnai oleh mobilitas tinggi masyarakat pada pertengahan bulan Agustus lalu jadi pemicu lonjakan angka ini.

Selama sepekan terakhir, rata-rata jumlah tes PCR per hari yang dilakukan Pemprov DKI ada di angka 5.000 tes PCR. Sejak menembus angka empat digit pada akhir Agustus lalu, hingga awal September ini persentase kasus positif menyentuh 10-11% dari total tes PCR per hari.

Melihat kelonggaran yang diberikan selama PSBB Transisi berjalan, himbauan physical distancing di ruang publik sebagai obat penawar meningkatnya mobilitas masyarakat tak mampu membendung virus Corona.

Tingkat Kemacetan di DKI Jakarta Selama Pandemi

Sumber: TomTom

Sejak Maret 2020, tingkat kemacetan di DKI Jakarta memang terjun bebas dari rata-rata tingkat kemacetan pada tahun 2019. Pada minggu ke-13 tahun 2020, atau akhir bulan Maret, jalanan di Jakarta 80% lebih sepi dari tahun 2019. Diberlakukannya PSBB pada April-Mei 2020 juga sempat membuat persentase ini beranjak ke angka 80-90% lebih sepi dari 2019.

Kelonggaran yang lahir dari skema PSBB Transisi pada Juni langsung memicu kemacetan di DKI Jakarta. Sejak minggu ke-24, atau minggu kedua bulan Juni, ruas-ruas jalan di Jakarta mulai terisi dan hanya 54-68% lebih sepi ketimbang rata-rata tahun 2019. Melihat tren kecenderungannya, angka ini bukan tidak mungkin akan terus meningkat.

Mobilitas Masyarakat di DKI Jakarta

Sumber: Google Mobility Trend

Jika dilihat dari kecenderungan mobilitasnya, masyarakat di DKI Jakarta terlihat paling enggan pergi ke taman saat pandemi. Terutama sepanjang bulan Mei, ketika PSBB diterapkan, tren pergi ke taman jatuh terpuruk. Meski demikian, mencari udara segar di taman bagi masyarakat Jakarta pelan-pelan merangkak naik pasca pemberlakuan skema PSBB Transisi.

Keinginan untuk pergi ke tempat retail dan rekreasi juga naik perlahan-lahan pasca pelonggaran aktivitas di ruang publik diberikan. Hal yang sama terjadi pula pada data mobilitas ke pusat transportasi umum, yang sejak pertengahan Juni naik tipis-tipis.

Data menarik lainnya adalah mobilitas masyarakat ke toko bahan makanan dan apotek. Sejak awal pandemi memang toko-toko ini tidak pernah ditutup total. Tidak adanya skema lockdown dengan penyediaan sembako gratis kepada masyarakat memaksa masyarakat harus tetap secara mandiri mengisi dapurnya.

Sementara kecenderungan masyarakat Jakarta untuk tinggal di area pemukiman memang naik ketika pandemi datang. Namun usai PSBB angka ini perlahan turun meski tak terlalu signifikan. Tentu saja, dibukanya tempat-tempat umum pasti amat menggiurkan pasca berbulan-bulan menjamur di rumah.

Pariwisata Mancanegara ke DKI Jakarta

Sumber: BPS DKI Jakarta, 2020

Angan-angan kembali normal meski ditempa pandemi juga mulai perlahan terlihat di aspek pariwisata. Sejak awal kasus pertama ditemukan pada bulan Maret, bandara internasional di DKI Jakarta memang tidak pernah benar-benar ditutup secara total dari penerbangan mancanegara.

Meski sempat anjlok ke angka 414 wisman di bulan April 2020, angka wisatawan mancanegara di DKI Jakarta terus meningkat setiap bulannya. Hingga data terbaru pada bulan Juli lalu, dicatat bahwa angka datangnya para wisatawan telah menembus lebih dari 3.000 wisman.

Hunian Hotel di Wilayah DKI Jakarta

Sumber: BPS DKI Jakarta

Jika jeblosnya angka kunjungan wisatawan mancanegara begitu terlihat saat pandemi, hal yang sama tidak begitu berlaku bagi tingkat hunian hotel di ibukota. Sebelum pandemi menyerang, pada Januari 2020, misalnya, tingkat hunian hotel di DKI Jakarta ada di angka 51,37%.

Penurunan yang signifikan hanya terjadi di bulan April di angka hampir 20%. Turunnya minat pergi ke hotel di bulan April juga pada akhirnya memaksa pemilik hotel gulung tikar temporer. Menurut rilis dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), tercatat 99 hotel di DKI Jakarta tutup di bulan April.

Pun demikian, minat untuk menginap di hotel selalu naik setiap bulannya. Bahkan, di bulan Juli, BPS Provinsi DKI Jakarta mencatat bahwa tingkat hunian hotel telah menembus angka 40%. Diprediksikan dengan skema yang diterapkan oleh Pemprov DKI dan akan terus diikuti oleh masyarakat, angka bisa jadi akan terus meningkat.