Klaster COVID-19 di Rumah Makan Kian Tak Terhindarkan

Visual: Galih Kartika

Bagaimana tidak ketularan kalau duduk makan berdesakan dan bertukar droplet lewat piring dan sendok.

Soto Lamongan di depan pusat perbelanjaan XT Square, Wirogunan, Yogyakarta, bersalin rupa dari tempat berkumpulnya penggemar kuah gurih koya menjadi pusat penyebaran virus corona. Penularan di warung soto ini bukan semata-mata karena kerumunan yang tak disiplin menerapkan protokol kesehatan. BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta menyebut para pengunjung telah disiplin bermasker dan jaga jarak, bahkan seorang pasien tetap terinfeksi meski membawa pulang makanannya.

Dari 225 ribu yang tercatat Satuan Tugas Penanganan COVID-19 pada Selasa (15/8), setidaknya tersiar fakta adanya 5 klaster penularan di warung makan dengan jumlah pasien kurang dari 100. Angka itu memang kecil, tapi tidak bisa jadi patokan untuk menilai bahaya dan tidaknya rumah makan di masa pandemi. Ada 80 persen lebih kasus COVID-19 di DKI Jakarta yang tidak diketahui asal-usul penularannya, maka kemungkinan klaster lain masih ada.


Klaster penularan COVID-19 lewat restoran tercatat jamak di seluruh dunia. Sebuah ruang tempat berkumpulnya warga memiliki beberapa risiko terbentuknya klaster baru, mulai dari jarak yang rapat antar-orang, higienitas alat makan, sampai sirkulasi udara terbatas dalam ruangan ber-AC.

Oleh karenanya, restoran kerap jadi lokasi yang masuk kelompok ilegal dalam skema pembatasan sosial. Restoran dan tempat ngebir di Eropa baru dibuka setelah ruang kerja dan fasilitas olah raga. Penanganan COVID-19 yang anti terhadap kerumunan begitu hati-hati menangani kerumunan di tempat makan.

Dalam studi Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mendapati jika pasien COVID-19 dewasa sebagian besar pernah kongkow di restoran sebelum terinfeksi. Padahal 60 persen responden mengaku cukup disiplin bermasker ketika keluar ke tempat umum.

Maka, usahakan tetap makan di rumah selama pandemi belum surut. Banyak tempat makan di kota besar Indonesia masih ugal-ugalan dengan abai terhadap jarak antar-pengunjung, dan memiliki sirkulasi udara terlalu rapat.