'Kingdom' dan Zombie: Gambaran untuk Manusia yang Gemar "Memangsa" Sesama

Visual: Otong

Di Korsel, kompetisi yang tidak setara dan dinamika kehidupan urban membuat nuansa tak nyaman bagi anak muda di negara tersebut.

Krisis sebuah bangsa tak jarang berpangkal intrik politik receh yang berujung ketidakmampuan mengurus hajat hidup orang banyak. Gambaran ini muncul di drama 'Kingdom' yang mengkisahkan drama kerajaan dalam situasi zombie. 

Berlatar era Joseon, syahdan seorang aja telah mati, tapi ‘ditunda’ kematiannya oleh Ratu Kedua dan ayahnya, sumber dari segala kekacauan dalam tata kelola kerajaan. Penundaan kematian Raja diperlukan hingga Ratu Kedua melahirkan anak, demi memberi jalan bagi Lee Chang yang hanya anak selir dalam urutan calon Raja baru.

Nahas, praktik lancung ini bersamaan dengan serangan zombie. Raja telah berubah menjadi zombie. Orang-orang yang terpaksa makan daging manusia karena kemiskinan dan kelaparan, berubah jadi zombie. Orang-orang sehat yang tergigit, juga berubah jadi zombie. Penyakit semakin menyebar luas karena politisi mengutamakan kepentingan pribadi, secara egois mengurung diri di istana, jauh dari kerumunan masyarakat yang mati begitu saja dalam kurung waktu berdekatan. Seolah kematian manusia hanyalah angka.

Mulai dari bulu kuduk yang berdiri karena perasan ngeri hingga jeritan kosong tanpa kata, Kingdom musim kedua meninggalkan dampak menohok bagi penonton, entah karena rasanya seperti bercermin, atau sebagai akibat renungan panjang nan kosong setelah disodori sudut pandang yang tidak pernah terpikirkan. Serial ini bebal memaksa kita untuk berangan-angan menarik situasi saat ini ke titik ekstrem.

Dilansir dari wawancara Cinema Escapist dengan Bae Doo-na, aktris pemeran Seo-bi seorang tabib tanpa pamrih mencari obat wabah zombie, Bae berpendapat bahwa Kingdom bukanlah cerita yang ringan, “Kingdom bercerita tentang permasalahan sosial jaman sekarang. Ini memang kisah pada suatu periode, tapi juga merupakan kisah dari waktu ke waktu.”

Bagaimanapun zombie-zombie ini rasanya familiar. Tidak hanya hadir di jaman Joseon, Zombie, menargetkan korban tanpa tujuan, bisa jadi sebuah metafora yang tajam mengenai ‘kelaparan’ yang dihadapi si miskin dan si kelas pekerja dari Korea Selatan. 

Istilah “Hell Joseon” pernah populer tahun 2015 silam, adalah sebuah gambaran yang tidak berlebihan mengenai kondisi sosioekonomi Korea. Joseon, yang merupakan nama dari kerajaan Korea, telah lama mati. Istilah itu kemudian dipendekkan lagi menjadi “Tal-jo” singkatan dari Bahasa Koreanya “Pergi” dan kata “Joseon” dapat diartikan menjadi “Tinggalkan Joseon”.

Sebuah ulasan oleh Asia Times menyebutkan sebanyak 75% generasi muda ingin meninggalkan Korea. Berdasarkan survey yang dilaporkan oleh Hankyeoreh, diikuti oleh 5000 orang dengan rentang umur 19 hingga 34 tahun, tujuh puluh lima persennya ingin keluar dari Korea. Survey ini menemukan 79.1% dari perempuan muda dan 72.1% dari pria muda ingin meninggalkan Korea. Survey juga menyebutkan 83.1% dari perempuan muda dan 78.4% dari pria muda menganggap korea adalah “Neraka”, serta 29.8% perempuan muda dan 34.1% pria muda menganggap diri sendiri “pecundang”.

Dari sekian banyak permasalahan yang ada, ketimpangan kelas sangat menonjol diusung dalam Kingdom. Contoh akibat langsung dari ketimpangan kelas adalah ketimpangan pendapatan, berasal dari berbedanya pemasukan yang didapatkan oleh setiap orang. Keinginan generasi muda Korea untuk meninggalkan negara terkaya ke-26 ini tampaknya didasari oleh susahnya menemukan pekerjaan saat tingkat pengangguran sedang tinggi-tingginya.

Bahkan setelah mendapatkan pekerjaan, banyak dari koresponden merasa kesusahan untuk menyeimbangkan keluarga dan pekerjaan. Korea merupakan negara di mana orang-orang bekerja rata-rata 2.069 jam per tahun, menempati peringkat terpanjang ketiga pada tahun 2019 di antara negara-negara yang tergabung dalam Organization of Economic Cooperation and Development (OECD) setelah Costa Rica dan Meksiko.

Berdasarkan penelitian pasar yang diselenggarakan oleh Macromill Embrain pada tahun 2015, dari 1000 orang dewasa, sebanyak 57.9% mereka tidak ingin terlahir kembali di Korea. Pada survey yang memberikan beberapa pilihan jawaban ini, sebanyak 76.6% menjawab mereka ingin tinggal di tempat yang lebih santai, 62.9% ingin hidup di negara dengan system keadilan yang solid, serta 61.7% mengemukakan ingin keluar dari kompetisi kejam dalam bermasyarakat.

Kehidupan di pelosok Korsel. Dok: Needpix

Ingin meninggalkan Korea tidak serta merta hanya soal kompetisi. Tidak berasal dari keluarga yang berada, kesempatan untuk memasuki sistem akan secara otomatis lebih terbatas. Lee Byung-hoon, profesor sosiologi dari Universitas Chung-Ang dilansir dari The Korea Herald mengatakan fenomena “Hell Joseon” adalah sebuah refleksi dari masyarakat umum segala umur di Korea dari semua umur yang harus bersusah payah untuk bertahan di tengah kurangnya lapangan kerja dan lingkungan yang tidak stabil.

“Dengan tolok ukur yang obyektif, Korea Selatan lebih baik daripada banyak negara lain. Tetapi orang Korea Selatan merasa tidak puas karena kesempatan yang tidak setara. Mereka merasa kenyataan di lapangan tidak rata sejak awal, dan upaya mereka tidak akan membuahkan hasil,” katanya. "Masalah seperti itu telah berkembang dalam waktu yang lama, tidak akan berubah dalam semalam," katanya. "Pemerintah harus bekerja untuk meningkatkan perlindungan bagi yang terpinggirkan dan meningkatkan keadilan masyarakat melalui kebijakan."

Film Korea “Parasite” yang menghebohkan kancah internasional 2019 lalu juga mengusung tema perbedaan kelas. Fans merasa takjub dengan gambaran realistis film tersebut, di mana sebuah keluarga miskin mengelabuhi keluarga kaya untuk mendapatkan pekerjaan, meski berakhir dengan tragedi mengerikan. Berbeda dengan Parasite, Kingdom menggabungkan elemen fantasi dengan latar oriental khas Korea masa lalu yang diharapkan dapat menghibur pasar internasional.

Hampir setengah tahun berlalu, kini fans sedang menantikan konfirmasi dan berita baik dari Netflix perihal kelanjutan musim ketiga Kingdom, menilik situasi yang sedang tidak memungkinkan untuk merealisasikan proyek besar ini. Yah, kita tunggu saja.