Kemampuan Tes Swab COVID-19 Indonesia yang Masih Menyakitkan

Dok: Galih Kartika

Apakah penyelenggaraan tes swab sebagai langkah antisipasi penyebaran COVID-19 sudah bisa membuat kita tenang?

Air mata sontak mengalir kala cotton bud berukuran 10 centimeter sekonyong-konyong masuk ke hidung Galih Kartika. Tangis laki-laki berusia 24 tahun ini bukan respons atas rasa sakit apalagi kesedihan, melainkan dampak alamiah ketika rongga hidung disentuh oleh benda dari luar. Ia dipaksa menangis dua kali usai petugas mengusap rongga hidung kanan dan kiri, lalu sedikit mual saat tenggorokannya diusap. "Maaf mas sudah bikin kamu menangis,” canda petugas RS Bethesda, Yogyakarta, kepada Galih.

Kamis (13/8), Galih terpaksa menjalani tes swab Polymerase chain reaction (PCR) COVID-19 usai main dengan salah satu kawan yang sempat kontak dengan pasien positif. Bagi Galih, tes itu tidak semenyeramkan kata orang yang kebanyakan memiliki bayangan ngeri soal stik yang masuk ke hidung terlalu dalam.

Tes PCR saat ini menjadi satu-satunya metode medis untuk menguji infeksi COVID-19 pada seseorang. Tak ayal jumlah pelaksanaan tes swab PCR terus digenjot, meski menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Indonesia sendiri telah mampu melakukan tes swab ke lebih dari 2 juta sample, dengan jumlah individu sebanyak 1,17 juta. Jumlah sampel memang lebih banyak karena pasien positif biasa menjalani tes swab minimal dua kali.

Kemampuan Tes PCR Harian di Indonesia

Sumber: Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19

Di hari yang sama dengan Galih, ada 14.850 orang lain di seluruh Indonesia yang menjalani tes swab. Untuk mengakses layanan tes swab bisa melalui berbagai cara, bisa dilaksanakan pemerintah atau mandiri. Pemerintah akan “memaksa” seseorang untuk swab jika yang bersangkutan memiliki kontak erat dengan pasien positif. Tes swab mandiri seperti Galih bisa dilakukan bermodal kesadaran ditambah biaya sampai Rp 2 juta. Banyak rumah sakit membuka layanan tes swab mandiri.

Kemampuan testing ini jauh membaik dari awal pandemi di bulan Maret hingga April. Pemerintah mengaku kekurangan peranti untuk tes. Dengan jumlah penduduk sampai 230 juta, cakupan tes pemerintah cenderung bergerak lamban.

Presiden Joko Widodo pernah menargetkan 10 ribu tes per hari pada 13 April lalu, namun baru tercapai akhir Mei. Sayangnya, angka itu masih naik turun. Target baru Jokowi yang dilontarkan pada bulan Juni yang mencapai 20 ribu tes per hari belum terwujud. Capaian pelaksanaan tes sampai 2 juta spesimen dari 1,17 warganya sama sekali bukan catatan yang patut dibanggakan.

Jumlah Tes per Negara


Sumber: Worldometers

Bila dibandingkan dengan negara lainnya, Indonesia masih belum ideal. Jangan lah membandingkan negara tajir macam Amerika Serikat, Rusia, dan India, yang telah mencapai kemampuan tes dengan jumlah sampai dua digit. Jumlah spesimen yang telah diuji Indonesia cuma 2 juta, dan AS telah mencapai 76 juta. Tak usah dikomparasi supaya tak miris.

Menjadi tidak ideal ketika kemampuan tes Indonesia bersanding dengan negara dengan kapasitas ekonomi setara. Dibandingkan negara berkembang semacam Brazil, Filipina, dan Peru, jangkauan tes Indonesia masih keok. Filipina misalnya dengan APBN 79,3 miliar dolar AS bisa melampaui Indonesia yang memiliki anggaran sampai 193 miliar dolar AS.

Jumlah Tes Negara per 1 Juta Penduduk

Sumber: Worldometers

Tuntutan untuk tes masif kepada pemerintah Indonesia bukan sembarang tuntutan. Dengan penduduk mencapai 273 juta, kemampuan tes Indonesia hanya mencapai 7.435 per 1 juta penduduk.

Angka ini masih jauh dibanding negara dengan populasi besar lainnya. Dalam diagram kemampuan tes per 1 juta penduduk di antara 5 negara berpopulasi besar, angka yang dicapai pemerintah Indonesia masih menyedihkan.

Pertumbuhan kasus COVID-19 di Indonesia

Sumber: Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19

Indonesia masih berjibaku menghadapi kenaikan kasus positif COVID-19. Ketika negara lain yang telah mengalami penurunan khawatir gelombang kedua, Indonesia masih belum levelnya karena gelombang satu saja belum berakhir. Meski demikian, Indonesia pembatasan sosial sudah bukan menjadi solusi usai pemerintah mulai melonggarkan mobilitas warga.

Saat ini, pakar medis di seluruh muka bumi telah sepakat jika kemampuan testing suatu negara menjadi kunci penanggulangan pandemi. Testing memungkinkan pemerintah dengan cepat mendeteksi infeksi, lalu melokalisirnya agar tidak memicu penyebaran baru. Kalau kemampuan tesnya masih segitu, bagaimana coba?