Kasus COVID-19 di DKI Jakarta Memang Parah dan Butuh Rem Darurat

Visual: Galih Kartika

Jika tidak, DKI Jakarta akan sulit merawat pasien dan bingung mencari lahan untuk memakamkan korban COVID-1

“Jakarta PSBB lagi?” celetuk seorang laki-laki sambil mengunyah nasi ayam. Keriuhan di deretan warung kaki lima bilangan Pejaten, Jakarta Selatan mendadak kicep. Penjual makanan, driver ojol, sampai pembeli yang tengah sibuk mengunyah, terpaku pada gawai.

Malam itu, kabar jika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan kembali menerapkan PSBB ketat. “Kita akan menarik rem darurat kita terpaksa kembali menerapkan pembatasan berskala besar seperti masa awal pandemi," kata Anies dalam konferensi pers digelar secara daring, Rabu (9/9).

Berita yang beredar mengubah santap malam menjadi muram. Laki-laki gempal bergumam sembari sibuk dengan wajannya. “Kalau ketat nanti (jualan) sepi lagi,” kata Mahmud menggerutu, khawatir warung pecel lelenya tak lagi laku. Sementara belasan orang lain yang ada dalam naungan tenda yang sama, seperti kompak memasang wajah cemberut mendengar kabar dari Anies.

Gerutuan itu mungkin bisa dipahami. Ketika orang Wuhan sudah party dan warga Eropa kian leluasa jalan-jalan, warga Jakarta harus menanggung risiko hidup dalam kungkungan pembatasan lebih lama. Jakarta yang baru saja tampak begitu optimis mulai menata hidupnya, ternyata mengandung realita tragis bencana kesehatan yang tak main-main.

Perkembangan Infeksi COVID-19 di DKI Jakarta

Sumber: Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta

Pelonggaran PSBB bulan Juni lalu benar-benar bukan akhir pandemi. Sejak saat itu, Jakarta terus mengalami kenaikan kasus secara signifikan. Pertumbuhan pasien positif harian Jakarta terus menyentuh angka 1000-an.

Angka positive rate atau perbandingan jumlah tes dan jumlah kasus terus naik. Selama 29 Agustus hingga 7 September, positivity rate harian di Jakarta terus di atas 10 persen. Bahkan sempat 14,4 persen pada 6 September, ini merupakan tertinggi setelah 14 April, saat itu di angka 22,7 persen.

Kasus Harian COVID-19 di DKI Jakarta

Sumber: Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta

Kenaikan jumlah kasus yang tak main-main adalah bahaya laten yang bisa menghancurkan layanan kesehatan. Benar saja, sejak PSBB longgar, 67 rumah sakit rujukan COVID-19 ngosngosan, terutama kamar ICU dan ruang isolasi.

Jumlah orang yang dirawat menurut data terakhir terdapat 4.432 orang. Padahal, jumlah tempat tidur isolasi hanya 4456, dan Pemprov DKI telah menambah 800 tempat tidur khusus pasien COVID-19 untuk mengantisipasi lonjakan.

Ketersediaan Ruang ICU

Sumber: Dinas Kesehatan DKI Jakarta

Ketersediaan Ruang Isolasi

Sumber: Dinas Kesehatan DKI Jakarta

Ternyata lonjakan lebih besar dari perhitungan. Data per 6 September menyebutkan jika okupansi tempat tidur ICU khusus pasien corona sudah mencapai 83 persen. Sementara untuk ruang isolasi sudah mencapai 71 persen. Jika jumlah pasien baru terus berada di angka 1000 hari, kamar-kamar khusus penanganan corona ini bakal habis dalam kurang dari sepekan.

Tenaga kesehatan juga mengalami defisit. Untuk mencukupi kebutuhan tenaga kesehatan di 16 rumah sakit, puskesmas, dan kantor dinkes di seluruh DKI Jakarta, masih ada kekurangan 1481 tenaga medis.

Jumlah Kematian COVID-19 di DKI Jakarta

Sumber: Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta

Selain ketersediaan rumah sakit yang terbatas, DKI Jakarta juga bingung memakamkan korban COVID-19. Secara tren jumlahnya terus meningkat. Misal pada 29 Agustus sampai 7 September, ada 532 orang di Jakarta yang dimakamkan dengan protokol corona. Pada periode yang sama 104 pasien positif corona meninggal dunia.