Kalung Anti-Virus dan Berlanjutnya Pencitraan Obat Corona

Visual: Otong

Indonesia terlalu mudah mengklaim temuan obat soal corona.

Dari Israel, Eropa, hingga Amerika Serikat, para peneliti meminta waktu lebih untuk menemukan obat hingga vaksin virus corona. Puluhan laboratorium di seluruh dunia punya hitungan realistis jika temuan manjur penangkal COVID-19 paling cepat muncul tahun depan.

Dalam penantian, pemerintah Indonesia mencoba ikut dalam adu inovasi. Kementerian Pertanian tampil ke muka dengan temuan benda sederhana namun memiliki label mentereng: Kalung Anti-Virus Corona.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengaku tidak asal klaim dengan menyematkan nama Anti-Virus sebagai judul produk. Kalung ini memiliki bahan pohon eucalyptus atau kayu putih. Menurutnya, kalung tersebut telah lolos ujian in vitro dan terbukti dapat melindungi pengguna dari paparan virus avian influenza (flu burung) subtipe H5N1, betacoronavirus, dan gammacoronavirus. Untuk virus Sars-Cov 2, kalung tersebut mampu membunuh 42 persen partikel virus selama 15 menit, bahkan 80 persen partikel virus bisa lenyap sampai 80 persen. Kerennya, kalung melewati penelitian dalam kurun waktu dua bulan saja!

Temuan ini malah berbalik jadi cibiran, alih-alih apresiasi terhadap kemampuan Kementan. Kritik yang muncul bukan soal kemampuan obat herbal yang bisa saja lebih mujarab dari segala macam rekayasa farmasi macam antibiotik. Tapi bagaimana mungkin COVID-19 yang begitu telak mengubah tatanan dunia ternyata keok dari kandungan herbal yang ditemukan dalam kurun waktu dua bulan?

Produk eucalyptus yang diklaim anti-virus corona. Dok: Kementan

Epidemiolog Universitas Indonesia mengkritik rasa percaya diri Kementan. Ia tak menampik bahan kayu putih punya khasiat anti-bakteri. Tapi, khasiat yang ada tak kemudian jadi dalih untuk disimpulkan ampuh melawan virus corona yang masih membingungkan para pakar medis. "Ya kayu putih berkhasiat, tapi jangan diklaim berkhasiat anticorona. Itu membohongi publik, nanti publik tidak patuh pakai masker lagi," jelas Pandu dilansir dari kumparan.

Karena belum terbukti keampuhannya, Kementan diminta untuk tak melebih-lebihkan hasil temuannya. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam mengatakan jika sebuah produk medis perlu diujikan pada manusia sebelum memunculkan klaim. 

"Jadi saya tidak setuju jika kalung minyak kayu putih disebut sebagai kalung antivirus. Cukuplah disebut kalung kayu putih. Saya berharap riset minyak kayu putih tersebut berlanjut karena minyak kayu putih memang sudah kita gunakan sejak dahulu kala dan juga sampai hari ini untuk berbagai masalah kesehatan," kata Fahrial, dikutip dari Antara.

Kementan pantang mundur dari keyakinannya. Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Kementan Indi Dharmayanti mengaku riset masih terus berjalan dan klaim anti-virus belum bulat. “Bukan (anti-virus), klaim kita yang di BPOM adalah jamu melegakan saluran pernapasan, mengurangi sesak tapi punya konten teknologi di mana kita buktikan invitro bisa membunuh Corona model dan influenza, cenderung mengurangi paparan," ucap Indi

Kehadiran kalung anti-virus corona ini seakan melanjutkan klaim penemuan solusi untuk menangani pandemi. Sebelumnya, DPR memamerkan jamu anti-corona bermerek Herbavid-19 dengan resep obat tradisional China. Idenya berawal dari Ketua Satgas Lawan COVID-19 DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, yang mengonsumsi Herbavid-19 saat isolasi mandiri usai diduga terpapar virus corona April lalu.

Pelaku dunia medis Indonesia sebenarnya tidak kurang akal dalam mencari cara menangani pandemi. Misal laboratorium Eijkman tengah meneliti plasma darah pasien sembuh yang bisa dimanfaatkan sebagai obat. Pemerintah juga berupaya ikut andil dalam penemuan vaksin. Tapi, ada kecenderungan untuk setiap obat yang rilis dalam situasi pandemi dengan mudah dilabeli sebagai anti-virus corona.