Itaewon Class Menyingkap Kenyataan Bahwa Korea Selatan Tak Seindah Bayanganmu

Visual: Otong

Saat film Korsel membangun citra baik negara asalnya, Itaewon Class kemudian menunjukkan kenyataannya.

Di tengah hujan deras, Geunwon tampak berusaha keras menyulut rokoknya yang terus mati sebelum hingga matanya menangkap sosok Saeroyi. Tersentak, Geunwon berdiri, berjalan mundur hingga terjatuh. Terlintas di benak Saeroyi kata-kata Presdir Jang tempo hari.

“Saeroyi, nak. Penting untuk mengetahui cara meminta maaf untuk perbuatan salahmu.” Mata Saeroyi menatap lurus ke mata Geunwon. Itu katanya. Tapi Presdir Jang mengambil semua miliknya.

“Apa yang kau lakukan? Kau terlihat kaget, sangat kentara.” Perlahan Saeroyi menarik kerah Geunwon, Geunwon mulai memohon. Adegan selanjutnya, Saeroyi memukuli Geunwon secara sepihak, sambil meraung dan menangis di tengah hujan. Setelah kematian ayahnya, Saeroyi terpaksa masuk penjara karena memukuli Geunwon, pelaku tabrak lari tersebut hingga sekarat.

Itaewon Class merupakan drama adaptasi webtoon terkenal karya Jo Gwangjin yang tayang di JTBC bulan Januari hingga Maret 2020 sebanyak 16 episode, Itaewon Class hangat dibicarakan, terlebih karena penonton juga dapat mengakses drama ini lewat Netflix.

Pemirsa tidak sabar segera menyalakan televisi saat hari Jumat dan Sabtu datang pukul 23.00. Kerja keras sutradara Kim Sungyoon dan penulis Jo Gwangjin membuahkan hasil. Dimulai dengan rating 5.2% pada penayangan pertamanya, Itaewon Class secara konsisten mendulang kesuksesan terbukti dengan pencapaian rating sebanyak 18.3% di penayangan terakhir.

Itaewon Class bukan hanya drama klise yang menceritakan kemarahan terhadap orang kaya yang biasa kita temui. Park Saeroyi, diperankan oleh Park Seojoon, merencanakan balas dendam atas kematian ayahnya yang tidak adil dengan cara menyaingi kesuksesan Jangga, perusahaan makanan nomor 1 di Korsel yang dirintis oleh keluarga Jang Geunwon, diperankan oleh Ahn Bohyun, dan dipimpin oleh ayah Geunwon, Presdir Jang Daehee yang diperankan oleh Yoo Jaemyung.

Saeroyi adalah orang dengan pendirian kuat dan persistensi tiada tanding. Memiliki prinsip, Saeroyi selalu berpegang teguh padanya. Tercermin dari keengganannya mengubah model rambut bahkan setelah 15 tahun, yang setelah penayangan drama ini menjadi ikonik dan booming. 

Setelah keluar dari penjara, ia mendirikan Danbam, restoran dan bar yang terletak di Itaewon. Dalam lika-liku perjalanannya membangun Danbam, ia bertemu banyak orang yang kemudian menjadi sumber kekuatan dan semangatnya hingga akhir.

Jo Yiseo, perempuan muda dengan kecenderungan sosiopat, sangat cerdas, sarkastik, dan licik. Setelah secara tidak sengaja bertemu dengan Saeroyi, ia memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya demi kemajuan Danbam.

Itaewon Class secara menyegarkan mengangkat isu-isu yang masih cukup tabu di Korea dengan karakter beragam yang mengisahkan isu-isu tersebut. Itaewon Class tidak menggambarkan Korea sebagai negara yang sempurna.

Adegan di Itaewon Class. Dok: Netflix

Seperti yang terjadi di seluruh dunia, isu rasisme disinggung dengan tokoh Tony Kim, pegawai Danbam yang diperankan oleh Chris Lyon, sebagai anak dari pernikahan antar ras, ayahnya berasal dari Guinea, Afrika Barat. Tony mengidentifikasi dirinya sebagai orang Korea. Selalu diasumsikan lancar berbahasa Inggris, Tony selalu dicemooh karena penampilannya tidak memenuhi standar Korea.

Isu lainnya yang diangkat adalah isu penerimaan publik terhadap transgender. Koki Danbam, Ma Hyunyi, diperankan oleh Lee Jooyoung, adalah pria yang sedang menabung untuk operasi ganti kelamin. Itaewon Class secara konsisten menunjukkan bahwa transgender tidak berbeda dengan kita. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Itaewon Class juga membahas kelakuan tak pantas pewaris konglomerat.

Itaewon Class terasa seperti sindiran halus kepada masyarakat, menantang basis dari negara yang dianggap konservatif dan konformis, sekalipun mulai mendunia dengan budayanya. Itaewon Class sekaligus menjadi pengingat jika Korea tidak lepas dari isu-isu yang perlu disuarakan dan dirangkul. Bermodalkan karakter-karakter kuat yang atraktif, serta adegan-adegan yang intens yang menguras emosi, Itaewon Class meraih hati penonton.

Kawasan Itaewon. Dok: Flickr

Mengambil latar di Itaewon, distrik yang paling dianggap “internasional” dan terkenal dengan kehidupan malamnya, latar Itaewon Class terlihat mewah dan trendi. Tidak mengherankan, dilansir dari “The Cultural Identity of Itaewon” esai yang ditulis oleh Kim Chanhee dari Yonsei University, jika dilihat dari sejarah geografisnya, Itaewon terletak di dekat basecamp militer Amerika Serikat pada tahun 1945, memiliki fungsi sebagai distrik hiburan dan prostitusi. Banyak perempuan yang menempati Itaewon dengan harapan dapat mengubah status sosialnya dengan menargetkan tentara Amerika Serikat.

Itaewon juga merupakan tempat tinggal dari banyak penduduk luar negeri, dengan sekitar 40 kedutaan besar terletak di area tersebut. Dilansir dari The Straits Times, kini terdapat sekitar dua juta warga asing tinggal di Korea Selatan, berkontribusi sekitar 4% dari lima puluh juta populasi.

Oke, katakanlah Itaewon adalah distrik yang terkenal dengan keberagamannya, tapi bagaimana dengan Korea secara keseluruhan?

Anggota parlemen konservatif memblokir undang-undang non diskriminasi yang akan melindungi komunitas LGBT dan minoritas lainnya pada tahun 2019 lalu. Politisi oposisi Ahn Sang-soo memperkenalkan amandemen yang akan menghapus "orientasi seksual" dari mandat National Human Rights Commission of Korean (NHRCK), sebuah badan yang bertugas mempromosikan hak asasi manusia dan menyelidiki tindakan diskriminatif di Korea Selatan. Amandemen tersebut akan secara serius meruntuhkan kemampuan lembaga ini untuk menangani diskriminasi terhadap orang LGBT dalam bidang pendidikan, pekerjaan, layanan publik, dan bidang lainnya.

Pekerjaan NHRCK sangat dibutuhkan. Komunitas LGBT menghadapi diskriminasi yang meluas dan berkembang di negara dengan gereja yang memiliki pengaruh besar di dunia politik ini. Sekalipun tidak dikategorikan “berbahaya dan cabul” sejak 2003, salah satu survei nasional yang diadakan oleh The Korea Social Integration Survey menemukan bahwa hampir separuh warga Korea Selatan tidak menginginkan teman, tetangga, atau kolega yang gay.

Dalam wawancara dengan Human Rights Watch, pemuda yang tergabung dalam komunitas LGBT menggambarkan ketidakpedulian atau permusuhan langsung oleh beberapa oknum terhadap komunitas LGBT membuat mereka merasa terisolasi dan sendirian, membahayakan kesehatan mental dan kesejahteraan mereka. Survey lain juga menemukan bahwa 45% dari remaja dibawah 18 tahun yang tergabung dalam komunitas LGBT telah melakukan perobaan bunuh diri, dan survey dari NHRCK menunjukkan 92% bagian dari komunitas khawatir akan menjadi korban hate crime.

Seoul Pride Parade. Dok: Flickr

Sementara itu, presiden Moon Jaein, yang sebelumnya merupakan pengacara hak asasi manusia, bergeming terhadap tindakan persamaan hak yang diajukan. Pada tahun 2012, Presiden Moon menunjukkan dukungannya terhadap hukum anti diskriminasi, namun 5 tahun setelahnya pada tahun 2017, ia menyebut dirinya memang tidak mendukung diskriminasi, tapi juga tidak mendukung homoseksualitas.

Berkutat pada karakter Saeroyi dan orang-orang yang membantunya meraih kesuksesan, tidak terlepas dari menyentil stigma masyarakat terhadap minoritas, Itaewon Class berhasil menyampaikan maksudnya secara impresif. 

Diperankan oleh aktor-aktor berbakat yang sedang naik daun dengan kualitas akting yang mumpuni serta OST yang telah merajai tangga lagu Korea selama beberapa waktu, Itaewon Class memberikan kesan reflektif, membuat penonton berdiam diri sejenak untuk berkaca pada prinsip dan motivasi kehidupan, sekaligus memberikan kesempatan pada penonton untuk mengevaluasi sudut pandang terhadap merangkul keberagaman dan sikap kemanusiaan.