Di Balik Minimnya Representasi Plus Size dalam Industri Fashion

Visual: Galih Kartika

Kegagalan industri fesyen raksasa dalam menghadirkan keragaman ukuran dalam koleksi busana mereka menunjukkan inklusivitas yang semu.

“Rasanya pasti akan lebih menyenangkan melihat kita semua disorot oleh lampu yang gemerlapan dibanding hanya sebagai pelengkap agar orang-orang lain bisa merasa lebih baik,” keluh Tess Holiday, seorang model plus-size dalam sebuah wawancara yang dilakukannya 2 tahun silam.

Wawancara yang dilakukannya oleh media daring InStyle tersebut membuat saya cukup tertegun karena selama ini telah menyangka bahwa dunia mode sudah cukup inklusif jika berbicara tentang ukuran. Pertanyaan baru kemudian melintas di kepala saya saat melihat model yang berlenggak di atas panggung runway adalah: mengapa hampir semua model yang ada di sana masih memiliki pakaian ukuran XS?

Berdasarkan Diversity Report yang dibuat oleh The Fashion Spot, sejak runway Musim Semi 2016 silam, representasi model plus size cukup fluktuatif. Musim Semi 2019 menjadi puncak dari banyaknya representasi model gemuk di atas panggung runway dengan angka 54 orang.

Sementara pada Musim Gugur 2019 panggung runway dunia hanya menghadirkan 50 model plus-size. Di antara angka-angka ini, New York Fashion Week menjadi pagelaran yang menyumbang keberagaman model terbanyak sementara Milan tidak menghadirkan model plus-size sama sekali.

Data Latar Belakang Model 2016-2020

Sumber: THE FASHION SPOT: DIVERSITY REPORT IN 4 INTERNATIONAL FASHION WEEK 2015-2020

Sebagai kiblat dunia terhadap tren di dunia fesyen, panggung runway yang tidak inklusif sangatlah disayangkan. Pasalnya, keberagaman yang dihadirkan oleh industri fesyen turut membentuk persepsi masyarakat tentang ukuran tubuh perempuan. Alih-alih me-mainstream-kan keberadaan ukuran plus size dengan pakaian yang trendy, selama ini inklusivitas ukuran seolah hanya dilihat sebagai keharusan agar dilihat sebagai ‘industri baik’.

Pandangan seperti ini yang kemudian menyebabkan banyak orang dengan ukuran baju XL seperti saya merasa rikuh jika mengenakan busana dengan potongan-potongan yang sedang in’.

Pandangan seperti ini hadir bukan tanpa muasal. Awal tahun 2020 silam, Tess Holiday disebut sebagai salah satu selebriti yang hadir di karpet merah Grammy Awards dengan busana terburuk. Pakaian yang ia gunakan saat itu, gaun berwarna pink pastel dengan corak strawberry dirasa terlalu ‘ramai’, menurut Megan Riedlinger seperti yang dilansir pada Wonderwall, media asal Amerika Serikat.

Dipercepat beberapa bulan kemudian, gaun yang didesain oleh Lirika Matoshi tersebut viral berkat TikTok karena digunakan oleh model dengan tubuh yang kurus. Kejadian ini membuat Tess Holiday geram. Dalam sebuah cuitan satirnya di Twitter ia berkata, “I like how this dress had me on worst dressed lists when I wore it in January but now because a bunch of skinny people wore it on TikTok everyone cares.”


Nuansa seperti ini tidak hanya muncul dari dunia mode internasional tetapi juga industri fesyen lokal. “Ga ada yang bisa dibanggain. Semuanya paling mentok XL, tapi ya XL pun jatuhnya belum tentu bisa dipakai untuk orang yang memang tubuhnya benar-benar plus size,” keluh Intan Kemalasari, salah satu influencer body positivity di media sosial.

Dalam kesempatan bertukar sapa dengan Intan, ia juga mengutarakan keresahannya akan desainer lokal yang tidak cukup inklusif. Baru mendiang Barli Asmara yang sukses memboyong 7 model plus size ke atas panggungnya di Jakarta Fashion Week 2020.

Di luar dari panggung runway, industri apparel pun tak kalah menyedihkan. Kita tidak bisa dengan mudah menemukan pakaian di atas ukuran XL tersedia di dalam pusat-pusat perbelanjaan dalam negeri.

“Justru yang paling mengerti dan provide customer plus size adalah brand-brand kecil yang selama ini jualan di online dan mungkin belum didengar namanya di industri fashion besar. Bigissimo, Bigthings Hijab, Pick Your Barb, semuanya brand-brand yg provide ukuran besar,” ucap Intan yang juga akhirnya memilih untuk membuka usaha lini busana plus size-nya sendiri dalam waktu dekat.

“Untuk brand luar ada H&M yang punya sizing sampai 4XL. Makanya saya paling sering belanja di ASOS.com, e-commerce dari Inggris, mereka provide baju plus size yang modelnya masih kekinian trus gak monoton. Walaupun pesannya harus nunggu 2 minggu dan pajaknya gak murah. Bukannya gak mau beli baju dari desainer Indonesia atau memajukan brand lokal, kalau ukurannya gak ada, kami harus gimana?”

Pakaian plus size sendiri bukan semata-mata busana dengan potongan yang lebih besar dan longgar. Intan mengungkapkan ada keragaman di dalam industri pakaian plus size, Plus size lebih beragam, ada yang besar di bagian atas dan kecil di bagian bawah atau sebaliknya. Ada yang petite plus size, tall plus size, dan lain-lain.”

Writer: Dita Nurliani