Calon Dokter yang Mengobati Rasisme di Studi Ilmu Kedokteran

Malon Mukwende. Visual: Otong

Mahasiswa kedokteran berkulit hitam menulis buku baku penanganan medis berdasarkan perbedaan warna kulit.

Setiap kali pasien kulit hitam menyambangi layanan medis dengan dugaan infeksi COVID-19, dokter hampir selalu mengecek apakah kulitnya menimbulkan ruam, atau ada memar di bagian mulut. Diagnosis ini membuat mahasiswa ilmu kedokteran keturunan Afrika, Malon Mukwende, geram. “Pengecekan semacam itu tidak ada gunanya bagi pasien kulit hitam, karena jelas tidak akan muncul. Hasilnya, mereka akan ditangani biasa saja, dan amat berbahaya,” kata Mukwende.

Mahasiswa tahun kedua di University of London ini tak heran dengan perilaku semacam itu. Menengok kurikulum kedokteran, kebanyakan materi ajar didominasi oleh contoh-contoh penyakit pada pasien kulit putih, dan minim penjelasan soal anatomi pasien berkulit gelap. “Pelajaran soal penyakit di kampus sering tak berlaku bagi kulitku, misalnya kasus infeksi yang menyebabkan ruam,” imbuhnya.

Demi menghindari rasisme berlarut di disiplin ilmunya, Mukwende bersama dua dosen di kampus kemudian menelurkan karya buku panduan kedokteran berjudul ‘Mind The Gap: Handbook for Clinical Sign for Black and Brown Skin’.

Buku ini fokus menjabarkan perbedaan gejala dari masing-masing warna kulit. Mereka memvisualisasikan secara rinci bagaimana perbedaan infeksi setiap penyakit antara kulit putih (yang selama ini telah dipahami) dengan kulit coklat atau hitam. Misalnya dalam penyakit ruam, warna kulit gelap tak akan menunjukkan bercak merah seperti orang berkulit putih.

“Hal ini penting untuk memulai mendidik tenaga medis lain agar memahami perbedaan dan kemampuan masing-masing kulit,” tambah Mukwende. Metode pelajaran ini bakal disebarkan melalui pelatihan terbatas, serta buku yang bakal terbit akhir Juli nanti.

Cover buku Malon Mukwende. Dok: University of London

Beberapa waktu terakhir merupakan momentum untuk menghapus rasialisme dalam berbagai bidang. Dalam ilmu kedokteran, gerakan Black Lives Matter yang menyebar ke seantero dunia, mendorong reformasi sektor kesehatan agar lebih setara.

Di Inggris, publik lewat petisi mendorong akses pengetahuan ke tenaga medis berkulit hitam, termasuk kurikulum yang lebih inklusif terhadap keberagaman pasien. Petisi itu telah mendapat 125 ribu tanda tangan.

Namun, rasisme telah menggerogoti ilmu kedokteran secara berlapis, mulai dari akses terhadap layanan sampai metode tindakan medis. Dunia medis disebut telah abai dengan perbedaan karakteristik setiap orang berdasarkan warna kulit.

Mukwende bukan yang pertama dalam usaha mengubah cara pandang dokter terhadap keberagaman warna kulit. Dalam catatan perpustakaan Yale University, tahun 2019 adalah masa subur tumbuhnya penelitian medis yang memperhatikan karakter warna kulit.

Jamaknya topik rasisme dalam pengembangan studi medis ditandai dengan kayanya analisis mulai masuk pembahasan. Masing-masing riset mendapati temuan tentang perbedaan dampak penyakit tertentu seperti persalinan, sampai penyakit berat seperti saluran kencing hingga kanker ginjal.