Bunyi dan Bau Kentut Bisa Jadi Patokan Kondisi Kesehatan Tubuh

Visual: Otong

Makanan berserat tinggi dan masalah pencernaan jadi pangkal dari kentut yang super bau.

Kentut keluar dari tubuh dalam ragam bunyi dan bau. Ada yang bergemuruh keras, namun tak jarang berdesir lirih malu-malu. Baunya juga tak melulu bikin mual, karena acapkali angin yang keluar dari tubuh tanpa permisi cukup tahu diri dengan tidak membawa bau busuk.

Sejatinya, kentut adalah mekanisme biologis lumrah yang terjadi di tubuh manusia, bahkan hewan berkaki. Aktivitas mulai dari bernapas hingga makan adalah sarana masuknya gas ke dalam tubuh.

Ada berbagai macam gas yang bisa masuk. Misalnya, proses dari bakteri usus menguraikan makanan kemudian disebut dengan “gas endogen’. Lalu ada gas yang masuk bersamaan ketika kita mengunyah makanan, permen karet, atau makanan tertentu yang sulit dicerna di dalam tubuh (misalnya brokoli, kembang kol, minuman berperisa, kacang-kacangan, kubis, minuman bersoda, bawang-bawangan) disebut dengan “gas eksogen”. Gangguan pencernaan juga bisa memicu, misal karena intoleransi gula, konsumsi karbohidrat, atau makanan berserat.

Lalu, kenapa kentut bisa bau?

Dari jumlah kentutan manusia dalam sehari, hanya 1% yang memiliki bau menyengat. Hal ini akibat dari kandungan sulfur atau hidrogen sulfida. Selain bau, kentut yang keluar juga memiliki volume yang berbeda, disebabkan oleh hidrogen, nitrogen, dan metana. Sedangkan bau kentut adalah hasil dari gas belerang di flatus.

Kentut yang bau tengik bisa jadi salah satu diagnosis kesehatan, dan tidak selalu buruk. Usai mengonsumsi makanan yang memiliki kandung hidrogen sulfida, kentut beruntun dan bau hampir pasti tidak terelakan. Kentut akibat makanan bisa dianggap wajar. Di samping itu, bau kentut mengindikasikan masalah kronis seperti sindrom iritasi usus besar, infeksi gastroenteritis, gangguan malabsorpsi seperti penyakit Celiac.

Aroma kentut pada pria lebih menyengat dibandingkan wanita. Kandungan gas pada kentut sendiri terdiri atas nitrogen, oksigen, hydrogen, hydrogen sulfida, methane, dan karbondioksida yang merupakan hasil fermentasi bakteri usus.

Suara kentut bervariasi tergantung pada kekencangan otot sfingter yang terdapat pada ujung rektum. Kekencangan otot sfinkter bergantung pada volume penumpukan gas di usus. Jumlah ini bergantung pada kondisi masing-masing orang. Misal saat cemas dan stress, seseorang cenderung menghirup gas udara lebih banyak sehingga memicu penumpukan gas pada saluran pencernaan dan mendorong keluarnya kentut.

Dalam dunia medis, kentut justru laku wajib untuk menjaga kesehatan. Manusia mustahil menghitung jumlah kentutnya, karena kentut paling sering terjadi saat sedang tidur karena keadaan otot anus yang lebih rileks. Kentut normal hingga 25 kali per hari dengan kandungan gas pada pencernaan sekitar 200mL-2500 mL dan kapasitas keluaran sekitar 600 mL.

Kentut punya tugas khusus untuk menjaga metabolisme. Tubuh tidak menghasilkan enzim yang dapat menguraikan karbohidrat kompleks tertentu sehingga diperlukan bantuan mikroorganisme dan hasil keluarannya berupa kentut. 

Kentut tak bisa dihindari, tapi kentut yang bau dan berbunyi bisa diubah dengan pola makan. Teknik penyajian makanan secara khusus dapat mengurangi efek konsumsi makanan yang menghasilkan gas pada tubuh. Mulai dari merendam kacang-kacangan selama beberapa jam yang kemudian dikeringkan sebelum dimasak.

Selain itu, atur asupan makanan berserat bila ingin kentut yang lebih terkontrol. Studi terhadap partisipan selama 2 hari tidak konsumsi makanan berserat secara signifikan menurunkan produksi 24 jam total volume gas pada usus khususnya karbondioksida dan hidrogen. Pada individu yang intoleran terhadap fruktosa akan sering kentut dan menghasilkan hidrogen lebih banyak.