Bisakah Kita Menggunakan Kotoran Manusia Sebagai Pupuk?

Visual: Galih Kartika

Sebenarnya bisa, cuma tinggal mau mengolah tahi sendiri apa nggak.

Pertanyaan itu tentu saja penting. Mengingat dalam kondisi normal, manusia biasanya menghasilkan sekitar 400 gram feses setiap hari. Ini berarti dalam satu minggu akan dihasilkan 2800 gram atau 2,8 kg. Jika dikalikan satu tahun, rata-rata manusia akan menghasilkan 145 kg. Di Indonesia sendiri, angka harapan hidup sekitar 73 tahun untuk perempuan, dan 70 tahun untuk laki-laki. Jadi seorang laki-laki yang hidup selama 70 tahun akan menghasilkan sekitar 196 kilo, dan perempuan akan menghasilkan sekitar 204 kilo. Jika dikalikan total keseluruhan orang Indonesia, maka di Indonesia harusnya ada sekitar 7.548.800.000 kilo atau 7 juta ton per minggu. Ini jumlah yang sangat besar untuk sebuah kotoran manusia.

Lalu, apakah kotoran-kotoran harus terbuang begitu saja?

Memang sebagian besar kotoran itu akan masuk ke saluran pembuangan dan hancur disana, yang mana bukan sebuah solusi terbaik dari sisi ekonomis dan juga lingkungan. Pembuangan kotoran ke lubang pembuangan tanpa pengolahan lanjutan seperti yang banyak dilakukan di Indonesia, dapat berpotensi mencemari tanah, meningkatkan kadar bakteri dalam tanah, bahkan mencemari air.

Tapi coba bayangkan jika kotoran manusia itu dapat dimanfaatkan dan tidak hanya hancur di lubang pembuangan. Bukankah itu ide yang brilian?

Beberapa wilayah di Indonesia sendiri sudah memanfaatkan kotoran manusia dengan mengubahnya menjadi biogas. Seperti di Pondok Pesantren Terpadu Al Yasini di Pasuruan, atau Seperti Pondok Pesantren Darul Quran di Gunung Kidul, yang juga memanfaatkan kotoran manusia sebagai biogas. 

Dan memang, mengubah kotoran manusia menjadi biogas adalah salah satu cara yang efisien yang dapat dilakukan. Bahkan beberapa ahli dari University’s Institute for Water, Environment and Health mengklaim bahwa penggunaan biogas ini juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber listrik.

Biogas di Bumi Langit Institute Yogyakarta. Dok: Bumi Langit

Selain mengubah kotoran menjadi biogas, mengubah kotoran manusia menjadi pupuk untuk tanaman juga menjadi salah satu perbincangan. Hal ini tentu bukan hal baru. Manusia telah menggunakan kotorannya sendiri sebagai pupuk sejak lama dan dikenal dengan istilah night soil.

Tercatat peradaban di Yunani adalah peradaban pertama yang menggunakan kotoran manusia sebagai pupuk dengan membuat penampungan kotoran lalu mengarahkannya ke lembah-lembah sungai untuk dijadikan sebagai pupuk. 

Selain itu, dalam buku Modern East Asia: A Cultural, Social, and Political History, tercatat bahwa pada abad ke-9 di Jepang, penggunaan kotoran manusia sebagai pupuk merupakan cara pengelolaan limbah manusia. Bahkan penggunaan kotoran manusia sebagai pupuk di Jepang bertahan hingga sekarang.

Saat ini, penggunaan kotoran manusia sebagai pupuk lebih dikenal dengan istilah biosolid. Istilah ini sendiri dikenalkan oleh US Environmental Protection Agency (EPA) atau Departemen Perlindungan Lingkungan Amerika. Biosolids sendiri tidak bisa disebut sebagai night soil

Dilansir dari website EPA, biosolids adalah hasil dari pengolahan lanjutan terhadap limbah manusia. Pengolahan lanjutan disini berarti perlu dilakukan pengolahan setidaknyaa satu kali untuk mengurangi patogen yang ada dalam kotoran sebelum di aplikasikan sebagai pupuk tanaman.

EPA juga memberikan aturan yang ketat terkait pengelolaan kotoran manusia menjadi pupuk atau biosolid. Setelah kotoran manusia dibuang dan dikumpulkan ke pusat pembuangan, perlu dilakukan pengolahan dengan pengendapan untuk mengurangi bau dan keaktifan dari patogen yang ada dalam kotoran.

EPA mengklasifikasikan ini sebagai biosolid B, yang penggunaannya terbatas dan membutuhkan ijin dari EPA karena pathogen tidak sepenuhnya mati. Untuk itu dibutuhkan pengolahan kedua, yang biasanya dilakukan dengan suhu tinggi, untuk membunuh semua pathogen dan mengubah biosolid B menjadi biosolid A. Biosolid A ini yang dapat digunanakan seacara legal sebagai pupuk kebun dan sayur dan dapat diperjualbelikan. 

Penggunaan biosolid ini juga terbukti menguntungkan baik secara ekonomi dan lingkungan. Selain karena sumber utamanya adalah kotoran manusia yang merupakan limbah, pengelolaan kotoran manusia sebagai biosolid dapat mengurangi biaya untuk lahan pembuangan.

Beberapa kota di Amerika Serikat seperti San Diego, Portland, dan Edmonton bahkan mengalihkan 50% pembuangan limbah menjadi Biosolid untuk mengurangi beban pengeluaran kota. Selain itu, Penggunaan Biosolid juga terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Dilansir dari Washington Post, Nadia Mercer, program director dari Washington Youth Garden, menguji coba dua tanaman, satu dengan kompos biasa dan satu dengan biosolid. Hasilnya, tanaman yang menggunakan biosolid, “tumbuh lebih cepat, lebih besar, dan lebih sehat”

Tapi bisakah kita memanfaatkan kotoran kita sendiri sebagai pupuk? Dengan pengolahan yang tepat, alat dan infrastruktur memadai, dan para ahli yang melakukannya tentu saja bisa. Tapi jika hanya bermodal lobang pembuangann dan ember, sepertinya hal itu perlu dipikirkan ulang.