Bertukar Tangkap dengan Lepas melalui Akun @txtdrberseragam

Visual: Otong

Tidak peduli apa seragamnya, kelakuan ganjen akan menuai nyinyiran.

Adalah Twitter, media sosial besutan Twitter.inc yang riuh rendahnya kerap menjadi sumber berita bagi siapa saja, tak terkecuali media massa. Meminjam puisi Amir Hamzah “Padamu Jua”, lema “bertukar tangkap dengan lepas” sejatinya menjadi rangkuman yang pas untuk menyikapi silang sengkarut cuitan netizen Indonesia. Meski tentu saja, konteksnya akan berbeda dari puisi tersebut.

Belakangan, banyak bermunculan akun anonim dengan nama pengguna txtdari. Sebut saja di antaranya @txtdrberseragam, @txtdarionlshop, @txtdrpemerintah, dan sebagainya. Ragam unggahan berupa foto tangkapan layar atau video singkat kerap kali membuat pembacanya tertawa, gemas, kesal, hingga ngeri.

Menariknya, unggahan-unggahan tersebut secara gamblang mempertontonkan kekonyolan--bila bodoh dirasa terlalu kasar--dari berbagai pihak. @txtdrberseragam misalnya, memberikan panggung bagi kontributor untuk memperlihatkan keangkuhan para tentara muda di tengah kesibukannya menyempatkan diri mencari perempuan dengan memamerkan kegagahannya melalui seragam.

Atau bagaimana, misalnya kekerasan yang tak terhindarkan ketika mereka ‘mengamankan’ demonstrasi. Meski demikian, ia tidak segan menyoroti hal-hal baik yang telah dilakukan oleh abdi negara. Menyusul kemudian adalah pro-kontra dari pihak-pihak terkait yang disampaikan secara langsung pada akun tersebut.


Mengapa lebih banyak tentara yang disorot jelek citranya daripada polisi? Jika pertanyaan ini sempat terbersit, jawabannya mudah: “Jangan-jangan benih Orde Baru masih tersemaikan subur sampai saat ini?” Mengingat sejarah panjang TNI dan Polri kerap bersitegang beradu maskulinitas.

Bicara maskulinitas yang sarat akan militerisme, hal ini coba dilucuti melalui akun tersebut. Masih ingat twit viral berisikan video seorang polisi muda berkata, “Pacar kamu ganteng? Kaya? Bisa gini nggak?” sambil mengokang senjata? Dari sana, respon netizen justru lebih banyak mengolok-olok daripada mengapresiasi. Lanskap seperti ini juga lah yang kerap muncul dalam lini masa @txtdrberseragam dengan segala komentarnya.


Diakui atau tidak, akun anonim @txtdrberseragam menyaru menjadi watchdog: meminjam meme sebagai metode menyampaikan realitas kelam atas buruknya sebuah institusi karena ulah anggota-anggotanya. Bahkan, citra buruk itu ditunjukkan sendiri oleh oknum-oknum terkait melalui percakapan atau story media sosialnya. Bayangkan saja, apakah mungkin di dunia nyata kita dapat menyampaikan kritik segamblang itu tanpa babak belur?

Di sisi lain, menarik kemudian untuk menabrakkan fakta ini dengan tingkat kepuasan dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan yang dilakukan beberapa media. Kompas misalnya, mendapatkan hasil bahwa citra TNI naik hingga 94 persen. Di titik ini, saya kadang sering kesal tentang hasil survey yang dilakukan di Indonesia. 

Bagaimana mungkin memunculkan angka-angka tersebut dan menjadikannya representasi seluruh warga? Sebab, selama ini saya, sebagai warga negara, belum pernah sekalipun mengalami survey serupa. Pun demikian, survey tersebut rasanya menjadi kurang relevan bila dibandingkan dengan lini masa akun @txtdrberseragam.

Syahdan, internet memberikan ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan apa saja. Boleh jadi, akun anonim ini termasuk dalam clicktivism. Ia mampu menjadi wadah bagi netizen Indonesia berdemokrasi: menyampaikan keluh kesahnya sebagai warga negara terkait ketidakpuasannya terhadap kinerja abdi negara. Namun, apakah keberadaan akun anonim @txtdrberseragam mampu memanjangkan tangannya untuk tidak terbatas pada ruang virtual?