Berbincang Vulgar soal Seni Rupa hingga Pertunjukan Bersama HaSoe

Dok Pribadi Hadi Soesanto

Sebagian dari kita mungkin mengikuti akun Instagram @hasoeindonesia untuk menyaksikan ragam kelucuan. Namun, siapa dan bagaimana sepak terjang pemilik akun tersebut?

Siang hari yang belum terlalu panas, saya menelepon Hadi Soesanto yang baru saja menyumbangkan lukisannya berjudul “New Hope” untuk BPBD D.I. Yogyakarta. Saya merencanakan untuk melakukan video call, namun beliau menolak dengan dalih “Aku malu e..”

Ia adalah orang di balik grup dangdut bernama Hasoe Angels, di mana selalu tampil dengan kostum nyentrik dan aksi panggung menarik. Di sisi lain, nama Hadi Soesanto juga beredar dalam medan seni rupa. Ia kerap diundang untuk berpameran di luar negeri. Seniman kelahiran Jember, 25 Mei 1968 ini terbilang unik, apa adanya, namun kerap kali menampilkan imaji yang vulgar. Siang itu, saya mengulik tentang praktik Hadi Soesanto baik di ranah pertunjukan maupun seni rupa.

Mega: Boleh diceritakan bagaimana Anda mengawali karir sebagai HaSoe?

Hasoe: Awalnya bisa main musik dulu, tapi masih musik gereja. Terus kelas 5 SD ikut kursus. Lalu pindah ke Jogja tahun 1987 untuk kuliah di Seni Rupa, ISI. Di situ masih belum main musik, wong belum punya keyboard. Baru tahun 1996 itu punya alat sendiri. Tapi waktu itu aku gabung dengan grup campursari di Jogja, namanya Bondho Aji. Jadi, sambil bermusik, sambil seni rupanya jalan. Kalau Hasoe Angels sendiri aku mulai tahun 2007-an. Namanya itu sebenarnya plesetan dari film Charlie Angels. Waktu itu juga ramai-ramainya Facebook.

Mega: Memangnya, apa pengaruh Facebook bagi Anda ketika itu?

Hadi: Linknya jadi terbuka. Orang lain yang selama ini barangkali cuma dengar namanya saja, jadi bisa tahu visual, gambar, atau foto kita. Lalu munculah Instagram. Nah, di sini malah jadi ajang promo. Jadi banyak kenal orang yang sebelumnya belum kenal. Bahkan sampai beberapa kali kita sempat tampil dengan band-band lain karena media sosial ini.

Mega: Ada berapa banyak yang tergabung dalam Hasoe Angels?

Hasoe: Pemusiknya cuma aku. Kalau singer-nya banyak, mau berapa tergantung kebutuhan. Pernah semalam itu 69 biduan. Karena yang nanggap itu ulang tahun umurnya 69 tahun. Waktu itu pentas di Jogja Gallery.

Mega: Anda menggunakan titel S.E. yang diplesetkan menjadi Sarjana Electone, apakah ada maksud tertentu?

Hadi: Sebenarnya ya mengkritik sih. Dulu kan banyak yang punya gelar S.E. atau Sarjana Ekonomi. Kemudian, kadang mereka punya gelar itu, tapi nggak bekerja di bidang itu. Misalnya sarjana pertanian, tapi buka counter hp. Terus aku plesetin, S.E. jadi Sarjana Electone. Padahal nggak ada kan, tapi ada yang percaya. Pernah ada yang tanya, “Pak, ini kampusnya di mana?” Hahaha

Mega: Dapat dikatakan kalau Hasoe sudah lama malang-melintang di dunia pertunjukan. Apakah pernah terlintas untuk tergabung dalam industri mayor? Mengingat lagu “Lelaki Kardus” gubahan Anda sempat dilirik oleh produser.

Hadi: Itu sempat. Satu setengah tahun yang lalu, kita sempat mau diambil sama manajemen gitu lho. Tapi kayaknya nggak jalan. Mungkin pertimbangannya gini, mereka mau masuk ke industri TV. Tapi lha penampilan kita kaya gitu. Kalau kita show itu kan kadang ngocol, ngawur, saru. Nah mungkin kita nggak cocok di situ yang tertib, tertutup, yang vokalnya harus benar-benar berima. Kalau anak-anak kan nggak bisa.

Mega: Beberapa tahun belakangan, imaji akan dangdut coba digeser dengan menampilkan aktor yang lain. Sehingga panggung tidak hanya tersentral oleh penampilan biduan wanita. Sedang Hasoe Angel berkebalikannya. Memangnya, apa pertimbangan Anda untuk tetap menampilkan visual Hasoe Angels dengan kostum yang seksi?

Hadi: Kalau aku, kebanyakan klien yang nanggap malah enggak suka yang laki-laki, enggak laku. Mereka selalu memilih perempuan. Dan sebenarnya aku punya konsep, jadi tidak sekadar seksi seperti biduan-biduan yang lain. Makanya aku pakaikan kostum yang tematik. Itu yang membedakan. Terus ada boneka di depan panggung, itu sebagai pemanis, bagian dari pertunjukan.

Mega: Bagaimana dengan pertimbangan visual kostumnya sendiri?

Hadi: Selama ini mereka cari-cari online. Tapi akhirnya cuma itu-itu saja. Terus akhir-akhir ini kita pesan ke penjahit, modelnya gini, gitu. Kalau idenya dari aku, atau misalnya mereka cari sendiri lalu dikonsultasikan ke aku.

Mega: Dengan penampilan yang terbilang vulgar, pernahkah Anda mengalami pembubaran pentas oleh pihak tidak dikenal?

Hadi: Dulu hampir. Waktu puasa. Tapi bukan akunya. Kita pernah mengisi di klub malam yang kalau puasa itu tetap buka. Karena jadi satu dengan hotel, jadi punya izin itu. Kita main jam 11 malam sampai jam 3-an pagi. Nah waktu itu MC-nya pakai gamis. Karena dipikir itu bulan puasa kan, jadi pakai gamis. Terus dikasih tau sama manajernya, disuruh pulang. Karena waktu itu acaranya di-live-kan, tapi waktu puasa, anak-anak pakai baju seksi. Itu tahun 2018 di Jogja.

Mega: Tidak jarang Anda pentas di luar negeri. Di pemahaman saya, beda lokasi pertunjukan, berbeda pula respon audiens. Apakah ada perbedaan yang Anda temukan selama bermain di daerah-daerah tersebut?

Hadi: Kalau manggung di luar negeri kan biasanya untuk TKI/TKW ya. Perbedaannya mungkin di lagunya. Mereka terlambat update. Jadi, kita ke sana malah kita kaget, lagu-lagunya malah lagu lama. Jadi bingung juga kan.

Mega: Anda menciptakan lagu berjudul “Aku Ora Kenal” dengan lirik yang tidak biasa. Apa sebenarnya yang ingin Anda sampaikan melalui lagu tersebut?

Hadi: Itu bagian dari protes sebenarnya. Selama ini kan lagu-lagu kesannya hampir sama. Dari lirik, ya asmara, patah hati, cinta, tresno. Kemudian chord-nya kan juga begitu-begitu saja. Susunan lagunya juga. Ya kreativitas anak-anak. Meskipun saya patut senang juga kan, anak-anak muda sekarang malah ciptaannya itu keren-keren dan dapat diterima masyarakat. Nggak perlu yang aneh-aneh.

Mega: Bagaimana perbedaan dalam berkarya selama masa Orde Baru dan Reformasi seperti saat ini di mana internet ternyata punya pengaruh besar terhadap Anda?

Hadi: Kalau aku melihat, dari teknologinya ya. Dulu kalau nge-job, orang datang ke rumah untuk janjian. Kalau sekarang, karena kemajuan itu jadi lebih mudah. Kalau segi ekspresi, lain. Tahun 90-an masih takut-takut, kalau sekarang sudah berani. Saru-saruan sekarang nggak apa-apa. Saru-saruan di Instagram itu nggak ada yang menegur.

Mega: Oke, mari kita beranjak membicarakan praktik Anda di seni rupa. Bisa diceritakan mulanya bagaimana?

Hadi: Kalau saya masuk ISI Yogyakarta itu 1987, lulus tahun 1994. Jadi ya selama itu proses seninya. Tadinya pameran kecil-kecilan di kampus, terus FKY, terus naik-naik lagi. Terus ya berkembangnya internet ini jadi punya e-mail. Artinya aku membuka link ke luar negeri, makanya sering dapat undangan. Kalau bersinggungan dengan pasarnya itu sekitar tahun 90-an.

Mega: Di beberapa lukisan Anda, ada bentuk yang sering muncul, seperti teko blirik atau pisang. Apa maknanya?

Hadi: Saya kan sering diundang ke luar untuk pameran atau workshop di sana. Saya ingin mengenalkan Indonesia meskipun mereka sudah tau sih. Tapi kan tahunya Indonesia itu Bali. Jadi saya pengen menaruh sesuatu di situ, yang tanpa aku ngomong, orang sudah tahu “O dia dari Indonesia.” 

Kemudian tekonya sendiri kan ciri orang kita, kebanyakan dari kita. Di warung-warung, di rumah, mungkin kenangan kita dulu waktu kecil dikasih ibu, dikasih simbah. Ada terus gitu. Ya sekarang aku mengeksplor itu. Kalau pisang-pisang itu sudah lewat, sudah bosan. Sebenarnya isunya sama, itu semacam kearifan lokal. Kita sering gunakan untuk macam-macam ritual, dari kita lahir sampai meninggal kan ada pisang. Ritual di Jawa khususnya, apalagi pisang raja. Ndilalah kok ya banyak respon juga, ada yang beli, ngoleksi.

Mega: Bicara singgungan kesenian Anda dengan pasar, apakah Anda pernah mengalami boom seni rupa di Indonesia?

Hadi: Saya mengalami tahun 2008-an. Ngawur itu. Ngawurnya gini, mereka (kolektor) kadang sudah inden (karya). Dan benar-benar ngawur. Pernah datang ke rumah sampai ditunjuk semua, dibeli semua karyanya. Tapi, ya mohon maaf, dengan harga yang remuk, lebih murah. Lucunya gini, tadinya mereka yang nggak perhatian sama seni rupa, seni lukis, tiba-tiba beli karya, banyak lagi. Kan aneh. Ya seperti tanaman gelombang cinta dulu.

Mega: Lantas, bagaimana pengaruh peristiwa tersebut bagi praktik kesenimanan Anda?

Hadi: Apa ya, kalau untuk, mohon maaf, seniman yang butuh banget ya peristiwa itu menyelamatkan ekonominya, menaikkan taraf hidupnya. Dan bagi saya ya suatu kesempatan, bisa beli gubug, beli rumah. Tapi di sisi lain, kadang kreativitasnya malah jadi ngawur. Jadi semacam biar cepat selesai menggambar, biar nggak kehilangan momen. Tapi ya tentu tergantung masing-masing senimannya sih.

Mega: Dapat dikatakan Anda menjalani praktik di dua ranah berbeda. Bagaimana ulang-alik keduanya mempengaruhi Anda dalam kekaryaan maupun karir?

Hadi: Saya pikir, di ranah seni rupa ibaratnya menjual barang nggak bisa langsung. Lukisan itu kebutuhan ke berapa sih? Orang beli lukisan kan pasti turah duit. Tapi kalau di pertunjukan kan murah, terus orang sering mengadakan acara, dan bisa dadakan juga. Misal pagi menghubungi untuk main nanti sore, ya selama masih ada waktu ya bisa. Akhirnya ya dua kesempatan ini tetap aku ambil. Kalau di kekaryaan, misalnya, singer-nya aku jadikan model lukisan. Tetap ada unsur keindahan juga mereka itu. Atau ke kostum, main tabrak warna, komposisi. Terus waktu perform diatur gimana-gimananya.

Dok Pribadi Hadi Soesanto

Mega: Dengar kabar kalau Anda ini suka ikut undian. Bisa diceritakan?

Hadi: Itu awal-awal muncul Facebook. Di situ orang pada nggak tahu, mungkin nggak percaya juga kalau ini beneran ada hadiahnya. Kalau aku waktu itu yakin aja. Karena begitu lomba pertama nyantol, yang lain ngikutin. Kalau sekarang kapok, enggak pernah menang. Karena saking banyaknya. Dan hadiahnya juga murah-murah. Kalau dulu keren-keren, dapet kamera, go-pro, motor, jalan-jalan ke luar negeri. Dulu sih yang paling berkesan buatku kalau dapat hadiah jalan-jalan ke luar negeri. Aku jadi bisa ke Afrika, keliling Belanda, banyak deh.

Mega: Mbok aku diajari Mas biar bisa menang kaya gitu hahaha

Hadi: Kalau aku ngomong sekarang itu percuma. Karena ada pemilik modal. Jadi yang menang itu-itu saja. Kalau dulu kan nggak ada yang tahu dan orang pada nggak percaya to. Hahaha.

Mega: Terakhir, bagaimana pandemi ini mempengaruhi Anda?

Hadi: Mempengaruhi banget. Untuk pertunjukannya ya wis macet total. Tapi di segi seni rupanya malah lebih produktif. Justru malah dapat ide-ide baru untuk seri Covid ini. Ada positifnya, ada negatifnya.