Belum Saatnya Mengharapkan Akhir Pandemi dengan Kedatangan Vaksin dari China

Visual: Otong

Vaksin baru mungkin siap pakai pada Januari 2021, itu pun proses penelitian berjalan lancar.

Kedatangan sampel vaksin virus corona di Indonesia disambut harapan membumbung di kepala pemerintah. Vaksin dianggap jadi obat jitu dari pertumbuhan kasus positif yang sudah mencapai 80 ribu, dengan tren yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.  

Saat bertemu tim pakar yang ngurusin riset vaksin, Presiden Joko Widodo request kalau bisa penelitian bisa tuntas dalam 3 bulan. Permintaan orang nomor 1 di republik itu tak dituruti, karena paling cepat vaksin tersebut baru bisa selesai Januari 2021 mendatang. 

"Kami bilang enggak bisa tiga bulan. Karena kita harus melakukan dengan hati-hati dan dengan benar," kata Ketua Tim Riset, Kusnandi, usai pertemuan dengan presiden di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (21/7). 

Vaksin yang dimaksud adalah garapan PT Bio Farma resmi bekerja sama dengan Sinovac, perusahaan asal China, dengan melibatkan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Vaksin itu belum sepenuhnya siap pakai. Tim periset masih harus menjalani fase III uji klinis vaksin COVID-19, sebelum akhirnya bisa diproduksi masif. 

Perlu diketahui, fase III sejatinya bukan fase terakhir dari uji coba vaksin, dan masih perlu penyempurnaan. Untuk proses tersebut, vaksin Sinovac juga ikut diuji oleh pihak lain yakni Instituto Butantan asal Brazil untuk melakukan uji klinis.

Menurut Vaccine Centre, London School of Hygiene and Tropical Medicine, terdapat lima tahap uji coba vaksin. Tahap pertama adalah pra-klinis, dimana peneliti mencoba mengembangkan formulasi vaksin. Adapun tahap ini meliputi pengujian dosis, keamanan, imunogenisitas, dan kemanjuran ketika tes dilakukan pada hewan.

Tahap kedua adalah uji coba fase I, dimana peneliti melakukan uji coba vaksin kepada relawan dengan jumlah kecil (10-100 orang). Tahap ketiga adalah uji coba fase II, dimana tes dilakukan kepada relawan dengan jumlah yang lebih banyak (100-1.000 orang). Tahap selanjutnya adalah uji coba fase III, dimana relawan dengan skala besar akan dites (1.000-10.000 orang). Tiga fase ini dilakukan untuk mengukur dosis optimal, menguji keamanan vaksin, dan apakah vaksin memicu respon imun yang kuat.

Tahap terakhir adalah tahap implementasi atau fase IV. Pada tahap ini, bakal vaksin akan diberi lisensi untuk produksi skala lebih besar. Setelah melalui proses produksi, bakal vaksin akan diawasi dan diukur efektivitas dan keamanannya. Ketika vaksin sudah mencapai fase IV, baru kita boleh bernapas lega. 

Visual: Galih Kartika. Olah Data: Gendis

Patut diakui, Milken Institute mencatat ada tiga kandidat tim peneliti yang tengah melalui uji klinis fase III, dan Sinovac menjadi satu di antaranya. Sinovac menggunakan jenis virus tak tidak aktif sebagai produk. Saat menempuh fase II, vaksin ini telah teruji aman bagi manusia. 

Selain Sinovac, penelitian vaksin oleh tim peneliti yang berasal dari China, Wuhan Institute of Biological Products dan perusahaan Sinopharm. Produk mereka menjadi kandidat pertama yang memasuki uji klinis fase III pada akhir Juni lalu. Tim ini menggunakan jenis vaksin inactivated virus atau virus tidak aktif.

Kandidat selanjutnya adalah tim peneliti dari Inggris, Consortium the Jenner Institute, University of Oxford yang bekerja sama dengan perusahaan AstraZeneca. Tim ini menggunakan jenis vaksin non-replicating virus vector atau vektor virus yang tidak bereplikasi. 

Vaksin seakan menjadi obat mujarab yang benar-benar diharapkan di tengah sulitnya mengadang laju pertumbuhan virus corona. Total ada 196 proyek vaksin yang tersebar dari berbagai laboratorium di seluruh dunia. Tapi, belum ada satupun yang benar-benar siap untuk diedarkan. Baru tiga laboratorium yang mencapai fase III, 4 laboratorium di tahap fase II, dan 9 laboratorium di fase I. Sisanya masih pada tahapan uji klinis. 

Progressnya sejauh ini cukup cepat. Ketika vaksin biasa memakan waktu belasan tahun, vaksin khusus COVID-19 mengalami proses mengagumkan dalam hitungan kurang dari setahun. 

Dengan waktu yang dijanjikan tim peneliti vaksin masih perlu enam bulan, kita masih perlu mengantisipasi. Per 21 Juli 2020, pasien positif Indonesia telah menembus angka 89.869 kasus, mengalahkan Cina di angka 83.863 kasus. Melihat angka penambahan kasus beberapa waktu terakhir, sepertinya kasus di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda penurunan yang signifikan. 

Maka tak heran jika berita-berita vaksin begitu dinantikan. Pun demikian, masih penting bagi masyarakat untuk tidak lengah dan tetap menerapkan protokol kesehatan di ruang publik. Tentu saja dengan mengingat bahwa jalan menuju vaksin COVID-19 di Indonesia masih panjang.

Writer: Gendis

Editor: Ardhana Pragota