Antara Kebocoran dan Kenyamanan Bersama Menstrual Cup

Visual: Otong

Banyak perempuan yang masih gamang mencoba menstrual cup karena belum tahu pasti cara menggunakannya.

“Wah, tembus tuh, tembus!”

Familiar dengan kalimat di atas? Bagi perempuan, setidaknya sekali seumur hidup tentu pernah berada di posisi tidak mengenakkan akibat darah menstruasi yang merembes hingga ke celana. Untuk beberapa yang lain, situasi tersebut bisa jadi traumatis karena diikuti oleh ledekan dari segerombolan anak laki-laki dan orang tak beradab lainnya.

Situasi seperti ini dapat terjadi akibat pembalut yang tak lagi mampu menyerap hasil peluruhan rahim yang tidak dibuahi. Normalnya pembalut sekali pakai memang harus diganti tiap 4 jam sekali, akan tetapi pada perempuan dengan siklus haid yang heavy flow ‘insiden’ di atas sangat mungkin terjadi. Beberapa perempuan akhirnya beralih pada menstrual cup, sebuah alat berbentuk cawan yang secara khusus didesain agar dapat menampung cairan menstruasi agar tidak meluber dan mengotori pakaian.

Tidak banyak yang menggunakan menstrual cup sebagai pengganti pembalut sekali pakai. Rasa was-was dan keraguan bisa lebih dominan akibat bayang-bayang pecahnya selaput dara akibat memasukkan cawan berbahan silikon tersebut ke vagina. Ketakutan ini diakui oleh salah satu teman yang belum memakai menstrual cup. 

“Aku belum coba karena ragu dan takut, selain karena faktor perawan, aku juga takut karena ini menyangkut daerah sensitif. Takut aja kalau ada apa-apa nantinya,” ungkap Sulis, mahasiswi berusia 20 tahun dari Karawang. Perempuan ini berujar kalau mengetahui menstrual cup melalui salah satu akun Twitter yang aktif membahas soal kehidupan perempuan.

Lain Sulis, lain pula alasan Riri, mahasiswi berusia 23 tahun yang kini sedang bermukim di Melbourne. Pada siang hari yang cukup cerah, saya berkesempatan untuk ngobrol singkat dengannya. “Gua takut kenapa-napa aja, sih. Kayak takut salah masukin. Gua kan rada-rada gak skillful begitu, kan. Jadi takut gara-gara kebodohan gua sendiri aja. Nah, gua tuh takut banget, kalau nggak bisa dikeluarin gimana?” akunya diikuti dengan tawa yang pecah. Keduanya lantas tetap setia menjadi penganut mazhab pembalut.

Menstrual Cup. Dok: Patricia Moraleda via Pixabay

Meskipun masih ada yang memiliki kekhawatiran tentang penggunaan menstrual cup, ada pula segelintir perempuan, termasuk saya, yang berpindah aliran. Olivia, perempuan berusia 31 tahun yang sedang sibuk bekerja di salah satu perusahaan swasta menuturkan bahwa ia telah menggunakan menstrual cup selama 3 tahun.

“Aku pakai pads tuh iritasi. Kalau pakai yang washable juga nggak efektif karena harus ganti berkali-kali. Pernah nyobain tampon juga, cuma aku kadang suka lupa pakai dan terasa risih karena benang tamponnya sering ganggu. Akhirnya 2017 aku ketemu sama menstrual cup dari Singapura,” kenangnya saat berbincang via telepon.

Ia kemudian mengatakan yakin untuk beralih ke menstrual cup setelah melakukan riset pribadi. Meski di awal pemakaian Olivia sempat merasa agak repot karena seringkali merasa kurang pas saat menggunakan cawan menstruasi. Dia mengaku kalau baru mahir menggunakan menstrual cup pada saat siklus haid ketiga sejak awal pembelian.

Pengakuan senada meluncur dari bibir Nova, pekerja swasta berusia 24 tahun yang sudah setahun belakangan tak lagi memakai pembalut setiap datang bulan. “Kesulitan pertama saat pakai cup adalah kita perlu tahu arah leher vagina, apapun itu istilahnya ya, arahnya ke mana? Karena kalau salah masukin dia nggak akan ‘pop’ di dalam. Masukinnya susah kalau misalnya kesat, dan waktu sudah masuk pun misal salah posisi dia nggak ‘pop’. Tapi ya lama-lama dicoba terus terbiasa.”

“Karena sadar kalau sangat banyak membuang sampah setiap bulan, Mbak. Dan mahal juga pembalut tuh kalau dihitung-hitung,” lanjutnya lagi kala dimintai kesaksian tentang faktor yang membuatnya memilih cawan menstruasi.

Aman dari iritasi, serta lebih terjangkau memang merupakan tiga alasan utama perempuan seperti saya, Olivia, dan Nova dalam memilih menstrual cup untuk mengatasi datang bulan. Selain itu, menstrual cup cenderung lebih praktis karena saat penuh bisa langsung dibuang, dibilas, dan digunakan kembali. Muatannya pun lebih banyak dan akan terasa ketika sudah penuh. Dan yang paling penting, cup seperti ini jauh lebih ramah lingkungan dibanding produk lainnya karena memiliki usia pakai beberapa tahun.

Dilansir melalui Friends of The Earth UK, satu orang dapat menghasilkan sampah produk menstruasi rata-rata 200 kg dalam hidupnya. Tak terbayangkan jika harus mengakumulasikan angka tersebut dengan jumlah populasi perempuan di muka bumi ini.

Namun, bukan berarti mereka yang masih mengandalkan pembalut sekali pakai sama dengan penjahat lingkungan. Riri meyakini bahwa ia masih bisa berusaha menyelamatkan lingkungan dengan caranya sendiri tanpa harus memaksa diri untuk menggunakan menstrual cup ketika ia sendiri takut untuk memasangnya.

Pada akhirnya, penggunaan menstrual cup lebih cocok jika dikategorikan sebagai pilihan gaya hidup. Ia bukanlah sebuah keharusan karena kebutuhan femininitas perempuan pun berbeda-beda. Tak ada gunanya memaksa seluruh kaum hawa untuk menggunakan cawan menstruasi, bukannya nyaman bisa-bisa yang ada mereka malah ketakutan.